Ancaman Nuklir di Timur Tengah

Iran-Israel Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Kolom Opini Koran Jakarta, Kamis 1 Desember 2011, hlm.4)

Konferensi yang membahas zona bebas senjata nuklir di Timur Tengah baru saja selesai diselenggarakan di Wina, Austria, (21-22 November 2011). Konferensi yang diselenggarakan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) itu dihadiri negara-negara Arab dan Israel. Pembicaraan difokuskan pada bagaimana Timur Tengah dapat belajar dari pengalaman negara-negara yang telah menerapkan zona bebas senjata nuklir (NWFZ) seperti Afrika dan Amerika Latin.

Meskipun dalam forum itu suasana dilaporkan relatif tenang selama perdebatan berlangsung, terdapat dua hal penting yang telah membuat forum itu menjadi gagal. Pertama, Israel dengan tegas mengatakan keengganannya untuk menerapkan zona bebas senjata nuklir. Padahal Israel merupakan satusatunya negara yang memiliki senjata nuklir di kawasan Timur Tengah. Negara ini bahkan diduga memiliki sekitar 200 hulu ledak nuklir.

Sepertinya Israel tidak pernah tertarik untuk meratifi kasi atau mengakui kepemilikan atas senjata nuklirnya. Kedua, Iran pun yang diduga memiliki senjata nuklir justru melakukan boikot dengan menolak hadir dalam konferensi tersebut. Padahal IAEA beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan laporan tentang nuklir Iran, dan hasilnya menunjukkan bahwa Iran telah melakukan aktivitas yang mengarah pada pengembangan senjata nuklir. Akan tetapi, Iran selalu membantah dengan mengatakan aktivitas nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai seperti membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.

Pastinya, dengan tidak adanya iktikad baik dari Israel dan Iran untuk secara bersama-sama mengurangi atau meniadakan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah pada konferensi tersebut. Hal ini berdampak pada situasi yang justru menimbulkan dilema keamanan di sekitar kawasan Timur Tengah.

Penyebab

Dalam dunia yang tidak aman, ketika satu negara merasa terancam oleh nuklir negara lain, maka kepemilikan senjata nuklir adalah suatu keniscayaan sebagai cara untuk melindungi diri. Kawasan Timur Tengah saat ini berada pada situasi yang mirip seperti itu karena terdapatnya ancaman senjata nuklir yang ditimbulkan Israel dan Iran. Bahkan Duta besar Suriah, Bassam al-Sabbagh, mengatakan dalam konferensi bahwa kemampuan senjata nuklir Israel telah menimbulkan ancaman serius dan berkesinambungan.

Hal yang sama juga berlaku pada Iran. Pertanyaannya adalah, benarkah ancaman nuklir Israel terhadap Iran, dan Iran terhadap Israel, itu nyata (real). Para penganut konstruktivis hubungan internasional menjelaskan bahwa realitas senjata nuklir itu bukannya pada kemampuan membunuhnya yang menjadi masalah, namun konteks sosial yang telah memberi makna pada kemampuan senjata itu (Eby Hara, 2011), dan ini biasanya diciptakan oleh para pembuat kebijakan melalui peran pemikiran dan pengetahuan bersama atas realitas sosial. Continue reading