Kartini Suara Subaltern

Kartini Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Kolom Opini Koran Tempo, Sabtu 21 April 2012, hlm. A9)

“Kamu tahu motto hidupku? ‘Aku mau’. Dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan. ‘Aku tidak mampu’ berarti menyerah. ‘Aku mau!’ mendaki gunung itu.”

Demikian Kartini mengatakan hal itu kepada Stella Zeehandelaar (seorang perempuan Belanda) dalam suratnya pada 23 Agustus 1900. Moto “aku mau” bukan tanpa makna. “Aku mau” menunjukkan keinginan keras Kartini untuk mengubah situasi dan kondisi Indonesia yang saat itu terbilang cukup memprihatinkan: marginalisasi terhadap perempuan dan kondisi kolonialisme.

Atas situasi tersebut, Kartini tidak hanya berdiam diri. Ia justru melawannya. Dalam konteks ini, Kartini dapat dipandang sebagai tokoh perempuan Indonesia yang mewakili suara perempuan yang tertindas, subordinat, dan non-hegemonik (subaltern).

Dalam spirit Hari Kartini, tepat kiranya jika suara Kartini terus digaungkan untuk dapat dijadikan sebagai sebuah pembelajaran bagi perempuan Indonesia. Agar pada saatnya nanti akan datang sebuah era ketika tidak ada lagi diskriminasi di semua lapangan kehidupan ataupun kekerasan terhadap perempuan Indonesia.

Istilah “subaltern” pertama kali digunakan oleh pemikir Marxis kenamaan asal Italia, Antonio Gramsci, untuk merujuk pada kaum petani asal desa Italia Selatan yang pencapaian kesadaran sosial dan politiknya terbatas dan lemah. Dalam bukunya yang berjudul Prison Notebook (1929-1935), Gramsci memakai istilah “subaltern” secara bergantian dengan “subordinat” dan “instrumental” untuk menggambarkan petani tersebut sebagai kelompok atau kelas yang non-hegemonik.

Dengan mengacu pada istilah subaltern Gramsci, Kartini dapat disebut sebagai tokoh subaltern, meskipun dikenal sebagai anak dari keluarga bangsawan. Mengapa? Karena Kartini adalah anak gadis yang dipingit, yang kemudian harus tunduk agar mau dinikahkan secara paksa (subordinat). Tapi Kartini tidak hanya berdiam diri. Kartini melawan itu semua, bersuara melawan kesepian karena pingitan, bersuara melawan arus kekuasaan besar penjajahan, yang dapat ditemukan dalam catatan-catatan pribadinya. Seperti Gramsci dalam Prison Notebook, Kartini juga meninggalkan catatan-catatan sebagai bentuk perlawanan. Continue reading

Advertisements