Menebak Presiden Amerika

Obama-Wins Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Kolom Opini Koran Tempo, Rabu 7 November 2012, hlm. A10)

Delapan bulan lalu (12 Maret), ABC News dan The Washington Post merilis hasil survei terkait dengan elektabilitas calon Presiden Amerika Serikat. Dari polling tersebut diketahui, untuk pertama kalinya Mitt Romney, yang saat itu sedang mengikuti pemilu pendahuluan calon presiden dari Partai Republik, berhasil unggul tipis dari Obama. Jika pemilu diadakan saat itu, dapat dipastikan Romney berhasil mengalahkan Obama dengan perolehan suara 49 persen. Sementara Obama hanya meraih 47 persen suara.

Para pengamat politik menilai unggulnya Romney dari Obama saat itu disebabkan oleh lambannya Obama mengatasi krisis ekonomi AS, dilihat dari masih tingginya angka pengangguran (8,6 persen) dan bengkaknya utang negara dengan angka mencapai US$ 14,3 triliun.

Hasil polling itu tentu tidak mengherankan, mengingat publik, sebagaimana tergambar dalam polling Gallup pada akhir Februari lalu, mengatakan pembenahan situasi ekonomi Amerika Serikat merupakan isu terpenting yang menjadi keprihatinan mereka. Menurut polling Gallup, 9 dari 10 pemilih terdaftar mengatakan, ekonomi adalah isu yang sangat penting (45 persen) atau paling penting (47 persen) sebagai pertimbangan mereka dalam mencoblos calon presiden yang akan dipilih.

Namun, setelah memasuki masa debat pada Oktober 2012 hingga menjelang pemilu 6 November 2012, peta dukungan pemilih terhadap kedua kandidat mengalami perubahan. Polling pasca-debat inilah yang akan dijadikan pijakan untuk mengetahui siapa Presiden AS terpilih pada 2012.

Polling pasca-debat

Dari tiga kali debat calon Presiden AS yang digelar di University of Denver Colorado (3 Oktober), di Hofstra University, New York (16 Oktober), serta di Lynn University, Florida (22 Oktober), Obama unggul dengan skor 2-1. Dalam debat pertama, Romney tampil percaya diri dan unggul dari lawannya. Selama 90 menit, ia tampak berfokus mengkritik sejumlah kebijakan ekonomi Obama. Romney menyesalkan keadaan ekonomi AS yang rapuh, dan Obama sebagai presiden dinilai telah gagal dalam menanggulangi masalah tersebut. Menurut Romney, tingkat pengangguran tetap tinggi.

Obama tampak tidak optimal dalam menangkis kritik Romney itu. Hal ini berdampak pada hasil polling yang langsung menghukum Obama secara elektoral. Dalam polling yang dilakukan CNN pasca-debat pertama itu, 67 persen warga menyatakan Romney sebagai pemenang. Sedangkan Obama hanya mendapat 66 persen, turun 8 persen dalam polling berbeda di sebuah lembaga survei online. Hasil polling Pew Research Center juga menunjukkan, Romney menikmati keuntungan dari kemenangannya dalam debat pertama di Denver, Colorado. Romney unggul 49 persen, sementara Obama hanya meraih 45 persen. Padahal, bulan lalu, Romney sempat tertinggal jauh dari Obama, delapan poin.

Pada debat kedua, Obama mampu bangkit dan mendongkrak dukungan baginya. Obama terus menyerang argumen Romney sejak acara dimulai. Isu domestik menjadi perhatian utama dalam perdebatan ini, mulai pajak, lapangan kerja, energi, hingga jaminan kesehatan. Sedangkan isu luar negeri yang dibahas adalah soal Cina dan penyerangan terhadap Konsulat AS di Benghazi, Libya, yang menewaskan Duta Besar Christopher Stevens, September lalu.

Hasil survei CNN pasca-debat menunjukkan, 46 persen responden memilih Obama sebagai pemenang dan hanya 39 persen yang mendukung Romney. CBS News pun menunjukkan hasil polling serupa dengan 37 persen responden mendukung Obama dan hanya 30 persen yang memilih Romney. Sisanya, 33 persen, menyebutkan keduanya memiliki kedudukan imbang.

Dalam debat ketiga atau terakhir yang membahas isu kebijakan luar negeri, Obama kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam berdebat dengan Romney. Perdebatan itu berlangsung sengit, keduanya saling serang dan beradu argumentasi tentang program nuklir Iran, Musim Semi Arab, Libya, Suriah, Israel, Cina, dan berbagai isu lain. Namun Obama, dengan pengalaman sebagai panglima tertinggi kebijakan luar negeri AS, tampak matang dalam menjelaskan kebijakan AS di bawah kepemimpinannya dan dengan tajam menyerang pandangan serta usulan Romney, yang dinilai hanya memiliki sedikit pengalaman soal isu-isu luar negeri.

Menurut Obama, Romney kerap mengubah posisinya terkait dengan isu-isu kebijakan luar negeri. Karena itu, Obama memperingatkan bahwa rivalnya itu tidak memiliki konsistensi yang dibutuhkan seorang panglima tertinggi. Obama juga mengklaim keberhasilannya mengakhiri perang di Irak dan sebentar lagi di Afganistan, menyerang para pemimpin Al-Qaidah dan memporak-porandakan jaringannya, serta membunuh Usamah bin Ladin-sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh Presiden AS sebelumnya.

Memukaunya penampilan Obama dalam debat terakhir itu memberi efek positif dalam kaitan dengan perolehan dukungan terhadapnya. Polling yang dilakukan oleh CBS News, beberapa saat setelah debat ketiga ini digelar (23 Oktober), menunjukkan bahwa Obama telah didukung oleh warga yang belum menentukan pilihannya. Sekitar 53 persen dari 500 pemilih yang memberikan pendapatnya mengatakan, Obama menang dalam debat tersebut. Sedangkan Romney hanya mendapat dukungan publik sebesar 23 persen. Adapun 24 persen suara lainnya mengklaim bahwa perdebatan berjalan seimbang. Hasil polling yang dilakukan oleh CNN/ORC International juga menunjukkan bahwa Obama merupakan pemenang debat final ini. Sebanyak 46 persen responden menilai Obama lebih unggul, dan hanya 39 persen responden yang menilai Romney menang.

Pasca-amukan badai Sandy pun Obama terlihat makin kokoh, sementara Romney harus berjuang keras untuk bisa eksis kembali. Keputusan Obama membatalkan kampanyenya dan berfokus menangani bencana badai Sandy terbukti efektif. Menurut polling Reuters/Ipsos, kebanyakan warga AS berpikir tidak terpengaruh oleh badai Sandy terkait dengan pilihannya terhadap Obama. Sebanyak 53 persen dari seluruh pemilih terdaftar diprediksi akan memilih Obama pada pemilu 6 November mendatang. Sementara hanya 29 persen yang akan memilih Romney.

Analisis

Merujuk pada sejumlah hasil polling di atas, maka dapat diprediksi bahwa Obama sepertinya akan berhasil mempertahankan kursi presiden yang sudah didudukinya sejak 2008. Meski Gallup Poll menyebut ekonomi menjadi isu sentral sebagai alasan publik dalam memilih Presiden AS, dan terbukti Obama kalah pada debat pertama yang mengangkat isu ekonomi, hal itu tidak memberi efek polling kepada Obama, yang menang dalam dua perdebatan lainnya.

Ada dua hal yang bisa dianalisis untuk dapat menjelaskan mengapa hasil polling Obama tetap unggul dari Romney pasca-debat. Pertama, menjelang pemilu 6 November, Obama berhasil menurunkan angka pengangguran. Pemerintah AS melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Amerika pada Oktober mencapai 7,9 persen (2 November). Meski naik 0,1 persen dibanding pada September (7,8 persen), jika dihitung sejak Maret 2012 yang angkanya mencapai 8,6 persen, Obama terhitung berhasil menurunkan angka pengangguran sebesar 0,7 persen.

Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Obama, Alan Krueger, mengatakan, laporan itu adalah bukti konkret yang menunjukkan bahwa perekonomian AS sedang dalam pemulihan. Krueger juga menjelaskan, pemulihan ekonomi ini telah menambah lebih dari 2 juta pekerjaan selama setahun terakhir, sementara laju pertumbuhan lapangan kerja pun terus meningkat.

Kedua, hal itu bisa juga dilihat dari naiknya harga saham di Asia, setelah laporan meningkatnya angka tenaga kerja di AS telah melampaui perkiraan dan kepercayaan diri di antara konsumen Amerika bertambah ke titik tertinggi dalam empat tahun terakhir (Bloomberg, 2 November).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s