Politik Luar Negeri Obama Periode 2

Asrudin2 Oleh Asrudin (Tulisan ini muat Kolom Opini Koran Jurnal Nasional, Jum’at 25 Jan 2013, hlm. 6).

ADA yang menarik untuk disorot dalam pidato inaugurasi pelatikan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, untuk yang kedua kali, 21 Januari 2013, terkait agenda politik luar negerinya. Dalam pidatonya itu, Obama menjanjikan aliansi yang kuat bagi seluruh negara di dunia. Obama pun berkomitmen menjamin keamanan tanpa memicu peperangan.

Terkait komitmen yang dimaksud, Obama menyinggung isu berakhirnya Perang Irak dan penarikan mundur pasukan Afganistan adalah bentuk kebijakan menghindari peperangan yang abadi. Sebelumnya, saat bertemu Presiden Afganistan, Hamdi Karzai, di Gedung Putih (11/1), Obama mengumumkan bahwa dirinya akan mempercepat penarikan mundur seluruh pasukan AS dari Afganistan. Setidaknya terdapat 66 ribu pasukan AS yang akan ditarik dari Afganistan, 2014 mendatang. Setelah itu, Obama hanya akan memfungsikan pasukan AS sebagai pelatih militer Afganistan.

Selain ingin mengakhiri peperangan, Obama beralasan percepatan penarikan pasukan AS dilakukan karena kemampuan militer Afganistan dinilai telah mengalami kemajuan signifikan. Ia juga mengklaim kelompok militan Taliban di Afganistan telah berhasil dipukul mundur oleh gabungan pasukan koalisi NATO dan militer Afganistan.

Merujuk pada hal itu, Obama tampaknya sudah mulai melepaskan ambisi kekuasaan regional di kawasan Timur Tengah dan kembali ke strategi lama, yakni offshore balancing. Strategi ini pernah diterapkan sebagai salah satu unsur pokok kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah selama sebagian besar periode Perang Dingin.

Offshore Balancing

Sejak peristiwa serangan teroris 11 September 2001, AS di era pemerintahan George W Bush telah menempatkan tentaranya dalam jumlah sangat besar di kawasan Timur Tengah, termasuk di Afganistan. Langkah ini dinilai banyak pakar kebijakan luar negeri AS sebagai salah arah. Dampaknya justru bukan mengurangi efek terorisme, malah membesarkannya.

Selain itu, kebijakan tersebut juga telah membuat hubungan AS dengan sekutu-sekutunya, Eropa dan Arab, terganggu. Dan alasan penempatan pasukan di Timur Tengah untuk mengamankan Israel pun sudah tidak relevan mengingat militer Israel yang cukup kuat dan deterensi nuklirnya yang kokoh sehingga tidak ada satu negara pun, termasuk Iran, berani menyerang Israel secara terbuka. Continue reading