Mendayung Antara Dua Karang

Mohammad Hatta-Mendayung Antara Dua Karang “Mendayung Antara Dua Karang.” Sebuah judul pidato Mohammad Hatta yang disampaikannya dalam sidang Badan Pekerdja Komite Nasional Pusat (BPKNP) di Djokja, pada 2 September 1948, untuk merespons situasi politik internsional saat itu yang cenderung bipolar antara AS dan Russia. Kita mengenalnya dengan istilah Perang Dingin. Dari pidato itulah kemudian lahir istilah Politik Bebas Aktif. Kesimpulan dari pidato Hatta itu bisa diringkas dalam paragraph berikut dan paling sering dikutip para pengkaji Politik Luar Negeri Indonesia:

“…Mestikah kita bangsa Indonesia, jang memperdjoangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita, hanja harus memilih antara pro Russia atau pro Amerika? Apakah tak ada pendirian jang lain harus kita ambil dalam mengedjar tjita-tjita kita? Pemerintah berpendapat bahwa pendirian jang harus kita ambil ialah supaja kita djangan mendjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus tetap mendjadi subjek jang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak memperdjoangkan tudjuan kita sendiri, jaitu Indonesia Merdeka seluruhnja. Perdjoangan kita harus diperdjoangkan diatas dasar sembojan kita jang lama: Pertjaja akan diri sendiri dan berdjoang atas kesanggupan kita sendiri…”

Dokumen pidato yang kemudian dibukukan dan dimuat Jurnal Foreign Affairs ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi penstudi Hubungan Internasional di Indonesia, khususnya para pengkaji Politik Luar Negeri Indonesia. Sengaja saya upload, kali-kali aja dokumen pidato Hatta ini belum ada yang punya atau sudah hilang entah kemana. Sila didonlot–>Hatta-Mendajung antara Dua Karang

Sumber Dokumen: http://serbasejarah.wordpress.com/

Advertisements