Menyingkap Motif Politik Luar Negeri Presiden Iran

Rowhani Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Kolom Opini JaringNews, Jumat 11 Oktober 2013)

Terdapat tiga perkembangan positif dalam politik luar negeri Iran pasca kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad. Pertama, sejak Hassan Rowhani terpilih menjadi presiden Iran pada 14 Juni 2013, ia berjanji bahwa politik luar negeri Iran akan difokuskan pada upaya meredakan ketegangan yang menyelimuti masalah program nuklir Iran dengan negara-negara Barat.

Kedua, janji itu ditepati Rowhani ketika menghadiri pertemuan dengan negara-negara P5+1 (yang terdiri dari China, AS, Jerman, Inggris, Perancis, dan Rusia), pada Kamis (26/9) lalu. Pertemuan yang dilakukan di sela-sela Sidang Umum (SU) PBB di New York itu difokuskan untuk menyelesaikan masalah program nuklir Iran, yang sampai saat ini masih terkatung-katung. Pertemuan yang dihadiri Presiden Iran Hassan Rowhani, itu berjalan tidak begitu lama karena semua pihak yang hadir langsung bersepakat untuk segera menuntaskan masalah tersebut dalam tempo yang singkat. Rowhani sendiri menargetkan selesai dalam tempo satu tahun. Untuk menunjukkan keseriusan diplomasi Iran, Rowhani rencananya akan membawa proposal tentang nuklir Iran di pertemuan berikutnya pada 15-16 Oktober 2013 di Jenewa.

Ketiga, dapat dilihat ketika Presiden AS Barack Obama dan Presiden Iran Hassan Rowhani melakukan pembicaraan bersejarah melalui telepon, Jumat (27/9) waktu Amerika. Ini adalah pembicaraan pertama di antara kedua pemimpin negara sejak revolusi Islam 1979. Dalam percakapan telepon itu, Obama mengatakan dia dan Rowhani menyadari tantangan yang membentang di hadapan kedua negara dan akan terus membahasnya sampai tercapai kesepakatan atas program nuklir Iran. Rowhani juga mengonfirmasi pembicaraan telepon itu melalui akun Twitter kantor kepresidenan, “di pembicaraan telepon, Presiden Rowhani dan Presiden Barack Obama menyatakan keinginan politik bersama mereka untuk bisa memecahkan masalah nuklir sesegera mungkin.”

Berdasarkan ketiga hal tadi, banyak analis dan praktisi hubungan internasional, khsusunya di AS, yang kemudian menaruh harapan positif pada diri Rowhani. Mereka umumnya meyakini bahwa motif politik luar negeri Iran di era Rowhani akan jauh lebih moderat jika dibandingkan dengan presiden Iran sebelumnya, Ahmadinejad. Benarkah demikian?

Nada dan Gaya

President of International American Council, Majid Rafizadeh, dalam kolomnya di Al-Arabiya (27/9) yang berjudul Why Obama and Rowhani didn’t bump into each other, menyinggung dua hal yang membuat banyak pihak terkesima dengan karakter kepemimpinan Rowhani, yaitu nada (tone) dan gaya (style). Dalam konteks itu, Rowhani telah berhasil membuat suatu pembedaan penting dirinya dari pendahulunya, Ahmadinejad. Dan itu Rowhani tunjukkan ketika berpidato di hadapan MU PBB pada 24 September 2013. Continue reading

Advertisements

Adakah Harapan untuk Suriah?

U.S. Secretary of State John Kerry and Russian Foreign Minister Sergei Lavrov speak, following meetings regarding Syria, at a news conference in Geneva Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat kolom jakartabeat.net, Senin, 7 Oktober 2013).

Ada kabar baik datang dari Suriah. Pemerintah Suriah di bawah rezim Bashar al-Assad dilaporkan menawarkan gencatan senjata kepada kelompok oposisi untuk menempuh jalan perdamaian. Penawaran ini disampaikan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Suriah Qadri Jamil (BBC, 21/9).

Jamil menilai gencatan senjata ini penting dilakukan, karena perang saudara yang berlangsung sejak awal tahun 2011 telah menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi Suriah. Lagi pula, kata Jamil, perang saudara ini tidak akan dimenangkan pihak manapun karena pemerintah dan oposisi telah sampai pada titik nol keseimbangan kekuatan, dalam arti sama-sama kuat secara militer.

Secara ekonomi, Jamil juga mencatat kerugian yang begitu besar akibat perang saudara. Selama perang berlangsung, Suriah telah kehilangan 100 miliar dollar AS. Hal itu setara dengan dua tahun produksi normal. Korban jiwa juga sudah mencapai 100 ribu orang, sementara jutaan orang lainnya mengungsi ke luar negeri.

Presiden Iran Hassan Rouhani, yang menjadi mitra strategis Assad, menyambut baik penawaran gencatan senjata pemerintah Suriah, dan siap memfasilitasi dialog antara rezim Assad dan kelompok oposisi jika diminta.

Meski penawaran gencatan senjata pemerintah Suriah belum diterima secara baik oleh kelompok oposisi yang terus menaruh kecurigaan, namun upaya perdamaian seperti ini layak untuk terus diperjuangkan oleh semua pihak. Tak terkecuali dalam hal ini adalah pihak Rusia yang pro Assad dan Amerika Serikat (AS) yang pro kelompok oposisi.

Upaya Rusia

Sikap pemerintah Suriah yang mulai kooperatif, dinilai sebagian pengamat, karena adanya andil besar dari Rusia. Meski selama ini Rusia terus memberikan dukungan terhadap Suriah dalam konfliknya melawan oposisi, bukan berarti Rusia tidak berupaya melakukan langkah-langkah diplomasi di kancah internasional untuk menyelesaikan konflik Suriah secara damai. Continue reading