Adakah Harapan untuk Suriah?

U.S. Secretary of State John Kerry and Russian Foreign Minister Sergei Lavrov speak, following meetings regarding Syria, at a news conference in Geneva Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat kolom jakartabeat.net, Senin, 7 Oktober 2013).

Ada kabar baik datang dari Suriah. Pemerintah Suriah di bawah rezim Bashar al-Assad dilaporkan menawarkan gencatan senjata kepada kelompok oposisi untuk menempuh jalan perdamaian. Penawaran ini disampaikan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Suriah Qadri Jamil (BBC, 21/9).

Jamil menilai gencatan senjata ini penting dilakukan, karena perang saudara yang berlangsung sejak awal tahun 2011 telah menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi Suriah. Lagi pula, kata Jamil, perang saudara ini tidak akan dimenangkan pihak manapun karena pemerintah dan oposisi telah sampai pada titik nol keseimbangan kekuatan, dalam arti sama-sama kuat secara militer.

Secara ekonomi, Jamil juga mencatat kerugian yang begitu besar akibat perang saudara. Selama perang berlangsung, Suriah telah kehilangan 100 miliar dollar AS. Hal itu setara dengan dua tahun produksi normal. Korban jiwa juga sudah mencapai 100 ribu orang, sementara jutaan orang lainnya mengungsi ke luar negeri.

Presiden Iran Hassan Rouhani, yang menjadi mitra strategis Assad, menyambut baik penawaran gencatan senjata pemerintah Suriah, dan siap memfasilitasi dialog antara rezim Assad dan kelompok oposisi jika diminta.

Meski penawaran gencatan senjata pemerintah Suriah belum diterima secara baik oleh kelompok oposisi yang terus menaruh kecurigaan, namun upaya perdamaian seperti ini layak untuk terus diperjuangkan oleh semua pihak. Tak terkecuali dalam hal ini adalah pihak Rusia yang pro Assad dan Amerika Serikat (AS) yang pro kelompok oposisi.

Upaya Rusia

Sikap pemerintah Suriah yang mulai kooperatif, dinilai sebagian pengamat, karena adanya andil besar dari Rusia. Meski selama ini Rusia terus memberikan dukungan terhadap Suriah dalam konfliknya melawan oposisi, bukan berarti Rusia tidak berupaya melakukan langkah-langkah diplomasi di kancah internasional untuk menyelesaikan konflik Suriah secara damai.

Upaya penyelesaian konflik itu terlihat ketika Presiden Rusia Vladimir Putin merespons rencana Presiden AS Barack Obama yang ingin melakukan intervensi militer ke Suriah karena alasan adanya penggunaan senjata kimia gas sarin pada 21 Agustus lalu oleh pasukan Assad dan menewaskan lebih dari 1.000 orang di daerah yang diduduki oposisi di pinggiran Damaskus.

Sebagai cara agar intervensi AS ini tidak jadi dilakukan, Putin mengajukan proposal perdamaian kepada AS yang isinya mengatur rencana untuk melucuti dan memusnahkan senjata kimia yang dimiliki pemerintah Suriah. Obama pun dalam pidatonya menyambut dengan positif dan akan memberikan kesempatan bagi jalan diplomasi, seperti yang diusulkan oleh Putin. Suriah juga telah menyatakan kesediannya untuk bekerjasama dalam merespons usulan proposal tersebut.

Untuk mempermulus langkah diplomasi damainya ini, Putin kemudian membuat opini di surat kabar bergengsi AS, New York Times (11/9), dengan judul “A Plea for Caution From Russia.” Meski opini Putin ini bernada menyudutkan dengan memberikan peringatan kepada rakyat AS dan pemimpin-pemimpinnya mengenai dampak yang bisa ditimbulkan dari intervensi militer ke Suriah. Namun opininya itu juga menunjukkan gaya diplomasi Putin yang prudent dan cenderung persuasif.

Dengan pendekatan yang bersifat multilateralistik, Putin mengatakan dalam opininya, “We must stop using the language of force and return to the path of civilized diplomatic and political settlement.”Serangan AS ke Suriah, kata Putin, hanya akan mengakibatkan lebih banyak korban termasuk korban tidak berdosa. Selain itu, serangan akan meningkatkan ketegangan dan melepaskan gelombang kejahatan teroris. Serangan juga dapat mengganggu usaha multilateral dalam mengatasi masalah nuklir Iran, konflik Palestina-Israel, dan Afrika Utara, serta dapat mengganggu keseimbangan dan keteraturan hukum internasional.

Putin kemudian menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk membela Suriah, namun tujuannya adalah menegakkan hukum internasional. Hukum adalah hukum, Putin kembali menegaskan, dan menurut hukum internasional, penggunaan kekerasan hanya diperbolehkan dalam rangka membela diri. Di luar itu, penggunaan kekerasan akan dianggap sebagai bentuk agresi.

Meski Putin dalam opininya itu mengutarakan ketidaksetujuannya mengenai “patriotisme” AS yang nampak dalam pidato Obama dengan menyebut kebijakan-kebijakan AS adalah “hal yang membuat AS berbeda, hal yang menjadikan AS sebuah pengecualian”, tetapi secara umum penggunaan kosakata Putin dalam opininya cenderung mengedepankan solusi damai bagi Suriah.

Terlepas dari semua motif politik luar negeri Rusia, upaya Putin ini tentu layak untuk diapresiasi oleh semua pihak, khususnya AS. Putin sudah membuka jalur diplomasi bagi penyelesaian konflik di Suriah, tinggal bagaimana sikap AS menindaklanjuti upaya Putin ini menjadi sebuah solusi damai yang konstruktif.

Sikap AS

Walaupun sempat bersitegang dengan Putin dalam pertemuan G-20 di ST Petersburg, Rusia (6/9), Presiden Obama tetap menyambut baik usulan proposal damai Rusia. Obama memutuskan sikapnya menunda serangan ke Suriah setelah rezim al-Assad menerima rancangan Rusia untuk mengumpulkan dan menghancurkan arsenal senjata kimianya.

Melalui pidato yang disampaikannya dari Gedung Putih beberapa waktu lalu, Obama mengatakan bahwa dirinya telah meminta parlemen untuk menunda pemungutan suara mengenai otorisasi aksi militer selama Washington mempelajari prakarsa Rusia.

Setelah pertemuan maraton selama tiga hari antara Menteri Luar Negeri AS, John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, AS dan Rusia akhirnya menyepakati proposal untuk menghancurkan pasokan senjata kimia Suriah. Kesepakatan ini diambil Sabtu 14 September 2013 lalu. Proposal itu juga mengatur agar pengawas senjata PBB berada di Suriah sebelum November mendatang. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghancurkan seluruh pasokan senjata kimia Suriah pada pertengahan 2014.

Kerry dan Lavrov juga menyepakati jika Suriah melanggar proposal tersebut, maka pemerintahan Presiden Bashar al-Assad akan menghadapi konsekuensi dari Bab VII Piagam PBB. Selain membahas sanksi, BAB piagam PBB itu juga mengatur intervensi militer internasional. Dalam opsi yang seperti itu, menjadi masuk akal jika kemudian pemerintah Suriah menawarkan gencatan senjata terhadap kelompok oposisi.

Namun mesti diingat bahwa langkah positif yang diambil Kerry dan Lavrov ini tidak akan berjalan baik jika AS gagal meyakinkan oposisi dan aktor pendukungnya, Saudi, mengenai keseriusan pemerintah Suriah dan aktor pendukungnya, Rusia dan Iran atas niatan baiknya untuk berdamai. Tetapi, jika AS berhasil meyakinkan oposisi dan aktor pendukungnya, seperti hal nya Rusia berhasil meyakinkan Suriah, bukan tidak mungkin harapan bagi perdamaian di Suriah dapat terwujud sesuai dengan apa yang direncanakan.

Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat konflik diimbau untuk bisa menahan diri dan memberikan kesempatan pada proses diplomasi. Semoga hasilnya adalah positif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s