Ketika Asia Menggigit Barat

48552_f Oleh Asrudin (Resensi Buku ini dimuat JakartaBeat.Net, Jumat 27 Desember 2013).

Tiba-tiba saja, ada satu wajah yang terlintas di benak penulis ketika membaca buku Kishore Mahbubani yang berjudul Asia Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakkan (Jakarta: Kompas, 2011), yaitu wajah seorang koki mahsyur dari negeri Malaysia yang dikenal dengan nama Chef Wan.

Chef Wan adalah pemandu program masakan yang ditayangkan serial di Fox TV berjudul East Bites West. Dalam tayangan tersebut, pria yang selalu tampil ceria ini, mengadakan perjalanan di negeri-negeri Barat untuk mengkompetisikan beragam masakan Timur yang dibuatnya dengan makanan-makanan khas Barat yang menyerupai dan paling digemari di kawasan tersebut.

Ternyata, lidah Barat lebih menyukai masakan Timur dan Chef Wan kerap tampil sebagai pemenang kompetisi. Selain itu, Chef Wan juga mengajarkan beragam resep masakan ala Timur yang lebih sehat dan berbiaya murah kepada khalayak Barat. Acara bertema hiburan yang tampak sederhana ini dapat menunjukkan bagaimana Timur tampil unggul di khalayak Barat, meski hanya dilihat dari segi cita-rasa makanan saja. Di luar hal itu, teringatnya penulis secara tiba-tiba akan Chef Wan adalah karena judul acaranya yang sangat menggugah perhatian yaituEast Bites West.

Sayangnya, dalam dunia ide, Barat justru dikonstruksikan kaum orientalis selalu unggul dari Timur (Asia). Puncak keunggulan itu bisa dirunut dari era pasca-Perang Dingin. Di era ini, kata Francis Fukuyama, dunia ide akan terasa lebih membosankan karena dominasi Barat. Menurut Fukuyama, runtuhnya Uni Soviet dan ambruknya tembok berlin pada 1989, telah menempatkan Amerika Serikat dan Barat di puncak piramida kekuasaan global. Tidak akan ada lagi proses dialektika dalam sejarah. Tidak ada lagi evolusi ideologi umat manusia. Yang ada hanya ideologi tunggal demokrasi liberal Barat.

Dengan demikian, dalam pandangan Fukuyama, “Sejarah telah Berakhir.” AS dan Barat akan memimpin dunia melalui ide demokrasi liberal tanpa sedikitpun terancam oleh ide-ide lain yang bisa menggusurnya. Ide ini, menurut Barat, harus dijadikan role model oleh belahan dunia lain, bila negara-negara ingin masuk ke dalam dunia “pasca-sejarah”. Singkatnya, dunia yang ideal adalah dunia yang mengikuti segala sistem dan pilar kebijakan Barat.

Dalam perkembangannya, keyakinan Barat itu mendapat guncangan yang cukup keras, salah satunya dengan diterbitkannya karya Mahbubani. Di dalam buku Asia Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakkan, Mahbubani yang juga dosen dan profesor Praktik Kebijakan Publik pada Kebijakan Publik Lee Kuan Yew School, Universitas Nasional Singapura, menolak dengan lantang anggapan Fukuyama. Bahkan Mahbubani menyebut bukunya itu sebagai anti-tesis akhir sejarah-nya Fukuyama. Sejalan dengan itu, Mahbubani dengan bukti-bukti kuat mengatakan bahwa kini pengaruh Barat telah menurun, sementara Asia terus bangkit dari keterpurukan. Itu terjadi, karena nilai-nilai Barat itu sendiri tidak lagi bersemi di dalam sanubari Barat, melainkan melekat dalam jiwa negara-negara Asia.

Seperti dalam karya Mahbubani sebelumnya, Can Asia Think?, buku Asia Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakkan juga memiliki kesamaan perspektif. Dalam buku ini –yang edisi aslinya diterbitkan tahun 2008– Mahbubani tetap berpendirian pada kesimpulannya bahwa Asia akan menjadi tempat bergesernya kekuatan global dunia. Di sini Mahbubani ingin meyakinkan kepada pembacanya, baik di Asia ataupun Barat, agar bersiap menyaksikan sejarah baru, dimana Barat tidak lagi menjadi kekuatan tunggal global dan akan segera membagi kekuatan itu kepada Asia.

Sejarah baru itu, menurut Mahbubani, akan ditandai oleh dua perkembangan penting. Pertama, kita akan melihat akhir dari era dominasi Barat dalam sejarah dunia. Namun, hal itu tidak berarti akhir dari Barat. Kedua, kita akan melihat munculnya kembali Asia, mengingat dari tahun pertama Masehi hingga tahun 1820, China dan India secara konsisten pernah menjadi dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Mahbubani yakin, mereka akan kembali ke posisi alami itu di abad 21.

Yang menarik, kata Mahbubani, bangkitnya negara-negara Asia ini justru terjadi karena meniru tujuh pilar kebijakan Barat yang sesungguhnya telah menghegemoni Asia selama 200 tahun terakhir. Sementara itu, Barat malah mulai meninggalkan pilar kebijakannya itu sendiri sehingga menyebabkan kemunduran bagi negaranya. Tujuh kebijakan yang dimaksud mencakup: pasar bebas, iptek, meritokrasi, kultur pragmatisme, budaya perdamaian, penegakan hukum, dan pendidikan. Inilah yang disebut Mahbubani sebagai March to Modernity. Continue reading

Mandela dan Politik Anti-Diskriminasi

43071213_mandela oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat Kolom Opini Koran Sinar Harapan, Sabtu-Minggu 7-8 Desember 2013, hal.4)

Kamis (5/12) tengah malam waktu setempat, mantan Presiden Afrika Selatan (Afsel) Nelson Mandela wafat pada usia 95 tahun (1918-2013) dikediamannya, Johannesburg. Mandela wafat setelah berjuang melawan kondisi kesehatannya yang terus memburuk. Ia menderita penyakit infeksi paru-paru yang menyebabkan komplikasi.

Wafatnya Mandela tidak hanya membuat rakyat Afsel kehilangan, tetapi dunia pun menangisinya. Masyarakat di seluruh dunia mengucapkan rasa belasungkawa atas kepergian Mandela, tak terkecuali pemimpin-pemimpin dunia.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, misalnya mengungkapkan rasa dukacita mendalam dan mengatakan bahwa Mandela merupakan sosok yang menginspirasi dunia internasional. Menurut Merkel, warisan yang ditinggalkan Mandela tidak akan mudah dilupakan siapa saja.

Hal yang sama juga diutarakan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Menurut Obama, Mandela adalah inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk dirinya. Obama bahkan menyebut Mandela sebagai “raksasa moral.” Presiden Rusia, Vladimir Putin, pun mengenang Mandela sebagai sosok yang memiliki otoritas, baik di Afsel maupun dunia internasional berkat aktivitas politik dan perjuangan sepanjang hidup.

Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa juga menyampaikan rasa belasungkawa atas wafatnya Mandela. Sosok Mandela dinilainya sebagai seseorang yang sangat memegang prinsip.

Banyaknya ucapan belasungkawa ini menunjukkan Mandela adalah tokoh dunia yang berhasil meninggalkan kesan baik semasa hidupnya. Salah satu kesan baik yang paling menonjol adalah kegigihannya menentang dan melawan kebijakan Apartheid yang diberlakukan pemerintah kulit putih Afsel.

Capaian Mandela

Semua tentu sepakat capaian politik terbesar Mandela adalah membebaskan Afsel dari hukum Apartheid. Apartheid adalah sistem pemisahan ras yang diterapkan pemerintah kulit putih di Afsel.

Waktu hukum itu diberlakukan, Afsel dikuasai dua bangsa kulit putih, yaitu koloni Inggris di Cape Town dan Namibia, serta para Afrikaner boer (petani Afrikaner) yang mencari emas/keberuntungan di tanah kosong Afsel bagian timur atau biasa disebut dengan transvaal. Continue reading