Mungkinkah Terjadi Perang Nuklir?

Nuklir Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat JakartaBeat.net, Rabu, 8 Januari 2014).

Sepanjang tahun 2013, isu nuklir tetap menjadi sorotan dunia internasional. Hal itu dapat dilihat dari isu kepemilikan nuklir Iran dan Korea Utara (Korut) yang terus menjadi atau dijadikan perhatian dunia internasional, khususnya oleh negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Korut dan Iran, dinilai Barat masih berpotensi menimbulkan ancaman bagi dunia jika dibiarkan memiliki senjata nuklir.

Besarnya perhatian dan ketakutan Barat (AS) pada kepemilikan senjata nuklir Iran dan Korut, mendorong sebuah lembaga polling kenamaan di AS melakukan jajak pendapat terkait isu tersebut. Hasilnya, mayoritas warga AS menilai program nuklir Iran dan Korut bisa menjadi ancaman keamanan terbesar bagi negaranya.

Survei yang dilakukan oleh Gallup pada 7-10 Februari 2013 melalui wawancara telepon terhadap 1.015 warga AS dewasa (berusia 18 dan yang lebih tua), yang tersebar di 50 negara bagian AS dan District of Columbia, menunjukkan 83% publik AS mengatakan pengembangan senjata nuklir oleh Iran merupakan “ancaman kritis” bagi negaranya, dan 16% mengatakan itu “penting tapi tidak kritis.” Sementara hanya 1% saja yang menilai bukan merupakan “ancaman penting.”

Hasil survei Gallup juga memperlihatkan persepsi negatif publik AS terhadap ancaman nuklir Korut. Delapan puluh tiga persen dari responden mengatakan bahwa pengembangan senjata nuklir oleh Korut merupakan “ancaman penting” bagi AS, dan 14% mengatakan itu “penting tapi tidak kritis”, sementara tiga persen saja yang menyebut itu “tidak penting”. Sayangnya, survei Gallup dilakukan sebelum Korut melakukan uji coba nuklirnya yang ketiga pada 12 Februari 2013. Jika saja dilakukan sesudahnya, sangat mungkin jika hasil penelitian ini akan menunjukkan prosentase persepsi negatif yang lebih tinggi perihal ancaman nuklir Korut.

Penilaian negatif publik AS ini ternyata paralel dengan kabar terakhir dari perkembangan nuklir di Iran dan Korut. Korut misalnya, dilaporkan telah mengaktifkan reaktor nuklirnya. Dengan meneliti gambar satelit yang diambil pada 31 Agustus 2013, para ahli dari AS melihat dua kolom uap mengepul dari sebuah gedung, yang diyakini menyimpan turbin uap dan generator listrik reaktor. “Keberadaan uap mengindikasikan reaktor sedang atau segera dioperasikan,” demikian tulis Nick Hansen dan Jeffrey Lewis, dalam postingan di blog 38north.org (program Institut AS-Korea di Johns Hopkins School of Advanced International Studies).

Begitu pula dengan Iran. Meski perundingan nuklir dalam wadah P5+1 (AS, Inggris, China, Prancis, Rusia, dan Jerman, dengan Iran) di Jenewa pada November 2013, berhasil baik, tetapi tetap saja masih terdapat persoalan dalam hal trust. Meskipun Iran berhasil dibujuk untuk mengembangkan uranium secara terbatas dengan tidak memasang sentrifugal, namun pada kenyataan, Iran masih saja memperluas program nuklirnya melalui pemasangan ribuan sentrifugal generasi baru di reaktor nuklir Arak. Dengan ribuan sentrifugal ini, Iran dapat melakukan pengayaan uranium secara lebih cepat, tidak hanya untuk kebutuhan pembangkit listrik, namun juga untuk kepentingan persenjataan. Dengan siasat tersebut, tak mengherankan jika Iran menyebut hasil kesepakatan P5+1 sebagai kemenangan diplomasi mereka terhadap Barat.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, dengan tidak adanya perkembangan yang positif perihal nuklir Korut dan Iran, tampaknya bahaya perang nuklir akan terus menghantui dunia di sepanjang tahun 2014 dan tahun-tahun setelahnya. Tulisan ini tidak hendak mengulas persoalan nuklir Iran dan Korut secara khusus. Tetapi membahas mengenai bahaya senjata nuklir dan ancaman yang bisa ditimbulkannya. Dengan membahas hal itu, kita akan ketahui apakah nuklir Iran dan Korut seperti yang ditakutkan Barat bisa menimbulkan perang nuklir ataukah tidak. Continue reading