Menstabilkan Krisis di Semenanjung Korea

korut

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun).

Pada Kamis 20 Agustus 2015, dunia sempat digemparkan dengan kabar bahwa Pemerintah Korea Utara (Korut) menembakkan sebuah roket ke wilayah perbatasan Korea Selatan (Korsel). Merespons serangan tersebut, Pemerintah Korsel juga langsung membalasnya dengan menembakkan puluhan roket ke wilayah perbatasan Korut.

Pemerintah Korut beralasan bahwa penembakan itu mesti dilakukan lantaran merasa terganggu dengan digelarnya latihan gabungan antara militer Korsel dan Amerika Serikat (AS). Oleh sebab itu, Korut menebar ancaman dengan menembakkan sebuah roket ke perbatasan Korsel. Tak hanya itu, Korut juga mengancam akan melakukan serangan ke Korsel dengan mempersiapkan pasukan khususnya untuk dikerahkan menuju garis depan dengan menggunakan kapal-kapal amfibi.

Beruntung, Korut-Korsel akhirnya bisa menahan diri dengan mengirim delegasinya satu sama lain untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi. Hasilnya, kedua Negara sepakat untuk meredakan ketegangan menyusul hasil yang didapatkan dari dialog damai yang dilakukan delegasi kedua Negara, sejak tanggal 22 Agustus. Korsel melalui presidennya Park Geun-hye berjanji akan berhenti menyiarkan propaganda anti-Korut. Sementara itu, Korut juga meminta maaf atas peluncuran serangan roket pertama. Negeri pimpinan Kim Jong-un itu juga bersedia minta maaf atas penanaman ranjau darat di Zona Demiliterisasi Korea (DMZ) yang melukai dua prajurit Korsel. Dengan kesepakatan yang demikian, maka kedua Korea batal untuk berperang.

Tapi apakah krisis di semenanjung Korea tak akan terjadi lagi ke depannya hanya dengan kesepakatan yang demikian. Jawabannya tentu saja tidak. Kita tahu, bahwa sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 1953, perjanjian yang secara resmi mengakhiri perang itu tidak pernah ditandatangani. Itulah sebabnya mengapa semenanjung Korea sampai sekarang tetap menjadi salah satu titik panas paling berbahaya di dunia. Itu artinya, krisis di semenanjung Korea akan terus berlangsung. Continue reading

Advertisements