Melawan Terorisme

teroris-sarinah

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Kamis (14/01/2016) pagi, kabar mengejutkan datang dari gedung Sarinah. Gedung yang berada di Jl. M. H. Thamrin No. 11 Jakarta Pusat itu dikagetkan dengan beberapa ledakan bom. Ledakan itu mengakibatkan pos polisi yang ada di perempatan Sarinah hancur. Selain ledakan, insiden baku tembak antara aparat keamanan dan para pelaku teror juga terjadi di sekitar kawasan Sarinah.  Insiden tersebut telah menyebabkan Tujuh orang tewas (5 orang pelaku ledakan, 1 orang warga sipil, 1 orang warga Belanda) dan 24 lainnya luka-luka.

Tak lama setelah insiden peledakan terjadi, Kelompok militan Islamic State Iraq and Syria (ISIS) menyatakan bertanggung jawab atas aksi teror bom tersebut. Pernyataan itu disampaikan media propaganda ISIS, Aamaq, melalui saluran Telegram.  Aamaq menuliskan, pejuang ISIS telah menjalankan serangan bersenjata pagi ini menyasar warga asing dan pasukan keamanan yang melindungi mereka di ibu kota Indonesia. Pengakuan ISIS itu semakin menegaskan dugaan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian,  yang menyebut pelaku teror di Sarinah ini merupakan kelompok Bahrun Naim yang diduga berada di Suriah. Bahrun Naim, sebutnya, ingin menjadi ketua ISIS jaringan Asia Tenggara dengan mendirikan Katibah Nusantara.

Mengingat kini Indonesia telah menjadi target aksi teror ISIS, adalah penting untuk memahami tujuan kelompok teror tersebut dan bagaimana cara melawannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengupas kedua hal itu, agar ke depan bangsa ini memiliki daya tahan yang tangguh ketika menghadapi insiden-insiden teror lainnya.

Tujuan Teroris (ISIS)

Menurut pakar kebudayaan dan agama dari Univeristas Boston, Amerika Serikat, Robert W Hefner, aksi teror bom yang kerap dilakukan kelompok militan ISIS adalah untuk merusak stabilitas di sejumlah negara Muslim, terutama yang berhasil dalam pembangunan ekonomi dan demokrasi (satuharapan.com). Itulah sebabnya mengapa anggota kelompok ISIS melakukan bom bunuh diri di Istanbul (Turki) pada pekan lalu. Kini Indonesia pun mulai menjadi target sasarannya.

Lalu apa yang menjadi tujuan teror ISIS itu sendiri? Seperti organisasi teroris modern pada umumnya, tujuannya adalah politik. Apa pun latar belakang psikologik dan motivasi kelompok ISIS, politik selalu menjadi tujuannya. Ia telah menjadi ciri dasar yang selalu dihadirkan kelompok ISIS. Merujuk pada tujuan itu, maka aksi teror ISIS bisa dipahami sebagai penggunaan kekerasan fisik yang direncanakan, dipersiapkan dan dilancarkan secara rapih dan tiba-tiba terhadap sasaran langsung yang biasanya adalah nonkombatan (sipil) untuk mencapai suatu tujuan politik.

ISIS ingin membuat sasaran langsungnya itu mengalami ketakutan/kengerian. Rasa takut/ngeri yang mencekam dan kegelisahan politik yang ditimbulkannya mereka manfaatkan untuk memaksa pemerintah memberikan konsesi-konsesi politik yang sesuai dengan tujuan-tujuan politik ISIS. Tujuan itu sudah pasti adalah mencapai kekuasaan politik (khilafah). Persis seperti semboyan mereka yang tertera dalam benderanya: al-khilafah baqiyah wa tatamaddad. Namun ketakutan/kengerian itu hanya bisa timbul jika aksi teror ISIS mendapatkan publikasi seluas mungkin. Itulah sebabnya ISIS selalu memilih sasaran, lokasi dan timing dengan pertimbangan mendapatkan publikasi yang luas secara pemberitaan. Beruntung ISIS berkembang diera revolusi teknologi media (radio, televise, media online, media cetak, dan media sosial), yang pemberitaannya bisa cepat menjangkau publik luas.

ISIS berhasil melakukan itu di Paris. Ia menyasar tempat publik dan menargetkan dengan serangan acak. Pemberitaan tentang itu pun menyebar bagaikan kilat ke publik luas seluruh penjuru dunia. Hal yang sama juga berhasil dilakukan ISIS di Sarinah, Indonesia. Meski dampak serangannya tidak sebesar di Paris, namun beberapa menit setelah ledakan dan baku tembak terjadi di Sarinah, media-media lokal dengan cepat memberitakannya secara langsung. Tak hanya itu, media-media asing pun ikut memberitakannya. Reuters misalnya memberitakan insiden tersebut dengan judul ‘Blasts, gunfight in Indonesian capital; at least three dead’. Media Kanada CBC.Ca memberikan tajuk “Jakarta, Indonesia hit by deadly explosion, gunfire”. Sementara media Singapura The Strait Times memberikan Tajuk headline-nya dengan judul, “At least three dead in Indonesia explosions; blast heard near Jakarta shopping.” Sedangkan CNN, Explosions heard in center of Jakarta”. Begitu pula dengan BBC, “Jakarta blasts: Explosions and gunfire in Indonesian capital”. Dan sejumlah media asing lainnya.

Cepat atau lambat jika ruang aksi teror ISIS semakin membesar dan terus mendapatkan publikasi luas, bukan tidak mungkin khilafah yang dijadikan tujuan politik utamanya akan tercapai. Tentu kita semua tidak menginginkan tujuan politik ISIS itu terwujud di negeri kita yang tercinta ini, dan menjadi porakporanda seperti di Suriah dan Irak.

Tingkatkan Daya Tahan

Berhasilnya aksi teror ISIS di Indonesia membuktikan bahwa hampir mustahil bagi pemerintah Indonesia untuk mencegah sekelompok kecil penyempal merencanakan aksi teror keji. Tak peduli betapa cermat dan hebat aparat intelijen dan penegak hukum di negara yang demikian luas dan terbuka ini akan selalu ada celah-celah kecil yang bisa dimasuki.

Itulah sebabnya Indonesia sebelumnya sempat kecolongan dalam berbagai insiden teror bom yang relatif besar, seperti di Bali pada 12 Oktober 2002 atau di hotel JW Marriot pada 5 Agustus 2003. Karena itu, ujian sesungguhnya bagi pemimpin di negeri ini adalah bukan hanya dengan membuat strategi pencegahan jitu agar insiden teror bom tidak terjadi, tetapi juga yang sangat penting adalah bagaimana caranya merespons jika insiden teror betul-betul terjadi. Kini, upaya dalam meningkatkan daya tahan seharusnya menjadi tujuan utama Indonesia – seberapa cepat masyarakat Indonesia menjadi pulih kembali setelah mengalami insiden teror?

Pakar keamanan nasional dari Council of Foreign Relations, Stephen Flynn,  dalam bukunya The Edge of Disaster: Rebuilding a Resilient Nation (2007) membuat analogi bagus daya tahan dalam istilah sains material. Dalam sains material, resiliensi adalah kemampuan materi untuk kembali ke bentuk semula setelah mengalami deformasi. Jika ke depan terjadi ledakan bom lagi, untuk melawannya pemerintah/masyarakat Indonesia harus memastikan agar aktivitas poleksosbud (politik, ekonomi, sosial, dan budaya) tetap berjalan seperti biasa, karena dengan begitu upaya teroris dalam mencapai tujuan politiknya bisa dikatakan mengalami kegagalan.

Bersyukur masyarakat Indonesia berhasil menunjukkan daya tahannya pasca insiden teror di Sarinah terjadi. Masyarakat kita telah memperlihatkan kepada pelaku teror, bahwa aksi teror mereka di Sarinah tak membuat mereka takut/ngeri. Lihat saja, bagaimana penjual mangga, tukang sate, es doger, penjual kacang rebus, dan banyak penjual lainnya tetap melakukan aktivitas berjualannya di sekitar lokasi kejadian.

Solidaritas pun terus ditunjukkan masyarakat Jakarta dengan berdatangan ke lokasi kejadian dengan menyampaikan pesan-pesan damainya.  Entah apakah ini terjadi karena munculnya hestek solidaritas melawan terorisme, seperti  ‪#‎KamiTidakTakut atau #WeAreNotAfraid, tapi yang pasti masyarakat telah menunjukkan daya tahan yang dimaksud. Ke depan, jika insiden teror terjadi kembali, bukan hanya respons cepat aparat keamanan saja yang dibutuhkan, melainkan juga kebutuhan akan daya tahan masyarakat Indonesia. Mengapa hal itu penting dilakukan? karena ketika masyarakat Indonesia tidak merasa terteror, takut, dan ngeri, maka mereka pun berhasil melawan terorisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s