Iran, Antara Rouhani dan Zarif

rouhani-zarif_ll_2

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini pernah dimuat Koran Jawa Pos, 20 Januari 2016).

Memasuki tahun 2016 ini, Iran akhirnya berhasil menapaki babak baru dalam arena internasional. Di tengah perselisihannya dengan Arab Saudi, Iran justru dibebaskan dari sanksi ekonomi negara-negara besar selama 14 tahun lamanya. Berbarengan dengan dicabutnya sanksi ekonomi itu, Iran mengumumkan pembebasan lima warga Amerika Serikat, termasuk wartawan Washington Post Jason Rezaian, sebagai bagian dari pertukaran tawanan dengan AS.

Pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran itu dilakukan setelah negara tersebut mematuhi perjanjian internasional untuk mengendalikan program nuklirnya. Sebagaimana diakui oleh Badan Energi Atom Perserikatan Bangsa-Bangsa (IAEA) pada 16 Januari 2016, bahwa Iran telah merampungkan segala langkah yang diperlukan untuk menerapkan kesepakatan nuklir. Kesepakatan nuklir itu terkait dengan pemangkasan jumlah sentrifugal dan membongkar reaktor air berat di dekat kota Arak, Iran.

Itu artinya, Iran telah menjalankan semua kesepakatan yang diminta kelompok negara-negara besar  (P5 + 1), yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Cina dan Rusia ditambah Jerman pada Juli 2015. Tak heran jika kemudian Amerika Serikat mencabut sanksi perbankan, baja, pengapalan, dan sanksi-sanksi lainnya atas Iran. Uni Eropa juga memulai proses pencabutan sanksi atas Iran.

Meski Iran mendapat sanksi baru dari AS terkait uji coba rudal balistik beberapa waktu lalu, Iran tetap dipastikan akan kembali ke kancah ekonomi global. Momentum ini dijadikan kesempatan bagi Iran untuk kembali ke posisi sebagai negara pengekspor minyak di dunia. Selain itu, sejumlah pelaku bisnis dan investor juga sudah ancang-ancang untuk memanfaatkan peluang ini. Banyak yang memprediksi, puluhan bahkan ratusan miliar dollar AS akan mengalir ke Iran begitu sanksi itu dicabut. Pertumbuhan ekonomi tahunan Iran dari 420 miliar dolar AS diperkirakan akan merangkak naik hingga 5 persen pada akhir tahun 2016 ini.

Sungguh ini adalah sebuah capaian kebijakan luar negeri Iran yang luar biasa, yang diperjuangkan oleh Hassan Rouhani sejak terpilih menjadi presiden Iran pada 14 Juni 2013. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya Iran bisa mencapai itu semua?

Nada & Gaya Rouhani

President of International American Council, Majid Rafizadeh, dalam kolomnya di Al-Arabiya (27/9) yang berjudul Why Obama and Rowhani didn’t bump into each other, pernah menyinggung dua hal yang membuat banyak pihak terkesima dengan karakter kepemimpinan Rouhani, yaitu nada (tone) dan gaya (style). Dalam konteks itu, Rouhani dinilai telah berhasil membuat suatu pembedaan penting dirinya dari pendahulunya, Ahmadinejad. Dan itu Rouhani tunjukkan ketika berpidato di hadapan MU PBB pada 24 September 2013.

Ahmadinejad, kata Rafizadeh, memiliki gaya dan sikap yang konfrontatif serta nada pidato yang berapi-api. Ahmadinejad sering memanfaatkan ajang pertemuan di MU PBB untuk menunjukkan permusuhannya dengan Barat. Sebagai contoh, Ahmadinejad menyinggung tentang keraguannya atas peristiwa Holocaust, menyebut peristiwa 9/11 sebagai skenario CIA, dan penentangan kerasnya atas Israel. Akibatnya, tiap kali Ahmadinejad berpidato di depan MU PBB, selalu diwarnai aksi walk out dari para diplomat Barat.

Rouhani justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia lebih tertarik meniru gaya dan nada mantan presiden Iran lainnya seperti Mohammad Khatami dan Rafsanjani yang dikenal moderat serta suka menyerukan dialog internasional kepada dunia Barat. Rouhani ketika berpidato cenderung menggunakan nada yang ringan, bahasanya pun tidak membakar amarah dan sikap serta gayanya juga tidak konfrontatif. Rouhani bahkan membuat pernyataan mengejutkan mengenai Holocaust dengan menyebut tragedi pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi menjelang Perang Dunia II di Eropa itu, sebagai peristiwa yang tercela dan terkutuk. Rouhani juga tidak menyindir Barat, khususnya AS, sebagai imperialis dan kolonialis, hal yang selalu disinggung oleh Ahmadinejad.

Terkait itu, tak berlebihan kiranya untuk menganggap Rouhani telah sukses membuat terobosan cerdas dalam diplomasinya. Ia berhasil meyakinkan Negara-negara Barat atas itikad baik Iran untuk bekerjasama. Menyitir Hans Morgenthau, maka Rouhani dapat disebut sebagai seorang diplomat yang prudent. Prudence adalah kemampuan menilai kebutuhan dan kenginan sendiri sekaligus mengerti kebutuhan dan keinginan pihak lain. Itu berarti Rouhani berhasil menyelaraskan kepentingan nasional Iran dengan kepentingan nasional negara-negara kuat (P5 + 1). Hasilnya adalah negara negara kuat tersebut, khususnya AS dan Eropa, mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran karena telah menerapkan kesepakatan nuklir.

Pena Javad  Zarif

 Selain karena nada dan gaya Rouhani, kesuksesan Iran dalam diplomasi-nya juga tidak lepas dari peran Menteri Luar Negeri Mohammad Javad  Zarif. Zarif dalam banyak kesempatan tidak hanya membantu Rouhani berdiplomasi menghadapi Negara-negara kuat (P5 + 1) di tiap perundingan membahas soal nuklir Iran. Tapi ada juga upaya yang dilakukan Javad Zarif untuk menggiring opini internasional, yakni melalui pena. Pena ini yang dijadikan oleh Javad Zarif sebagai senjata diplomasi Iran lainnya.

Dalam esainya yang berjudul “Iranian Foreign Policy in the Rouhani Era” yang dimuat Foreign Affairs (Mei/Juni 2014), Javad Zarif misalnya mengutarakan tentang kebijakan luar negeri Rouhani yang moderat. Menurutnya, Platform kebijakan luar negeri Rouhani kini tidak lagi menjalankan cara-cara keras, sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya (Ahmadinejad). Rouhani bertekad untuk memperbaiki keadaan yang tidak dapat diterima agar bisa memulihkan hubungan Iran dengan dunia luar, khususnya negara-negara Barat. Rouhani, singgung Zavad Zarif bahkan menyerukan wacana “prudent moderation.” Visi ini dimaksudkan untuk menunjukkan komitmen Rouhani menghindarkan Iran dari konfrontasi menuju dialog demi membangun kepentingan bersama. Dengan begitu upaya untuk mengurangi ketegangan dan mencapai kesepakatan bisa di raih.

Tak berhenti sampai disitu. Zavad Zarif di The New York Times (10 Januari 2016) juga menuliskan opininya yang berjudul “Saudi Arabia’s Reckless Extremism”. Dalam opininya itu, Zavad Zarif mengingatkan kembali dunia internasional, khususnya Negara-negara Barat, tentang prioritas utama kebijakan luar negeri Iran. Prioritas Iran, tegas Zavad Zarif, adalah persahabatan dengan semua negara tetangga, kedamaian dan stabilitas di wilayah, dan kerjasama global khususnya dalam perang melawan ekstremisme. Pada September 2013, sebulan setelah resmi menduduki jabatan presiden, Rouhani bahkan menawarkan sebuah inisiatif yang disebut World Against Violence and Extremism (WAVE) – Dunia Melawan Kekerasan dan Ekstremisme. Inisiatif itu telah disetujui secara konsensus oleh Majelis Umum PBB, yang memberikan harapan akan adanya suatu kampanye global yang luas untuk memerangi terorisme.

Merujuk pada dua tulisan tersebut, Zavad Zarif rupanya terlihat gigih dalam menggiring opini internasional, khususnya opini Negara-negara Barat, tentang wajah Iran yang lembut dan tidak segahar seperti dimasa pemerintahan Ahmadinejad. Inilah yang saya sebut sebagai diplomasi cerdas Iran: perpaduan antara nada dan gaya Rouhani dengan Pena Zavad Zarif. Diplomasi cerdas itu yang kemudian membawa Iran pada era baru dan terbebas dari isolasi ekonomi.

Bagi Indonesia, kembalinya Iran ke dalam arena internasional mesti disambut baik dengan meningkatkan hubungan ekonomi kedua Negara yang saling menguntungkan. Indonesia harus bisa memaksimalkan produk ekspornya ke Iran, seperti makanan, kertas, karet alam, suku cadang kendaraan, peralatan elektronik, dan bahan baku tekstil. Begitupula sebaliknya, Iran juga bisa menjual produk andalannya sepert baja, aluminium, dan kacang-kacangan ke Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s