Perang Opini Iran Versus Arab Saudi

maxresdefault

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dipublikasikan media manapun)

Sebagaimana diketahui bersama, setelah ulama Syiah terkemuka Nimr Baqr al-Nimr dieksekusi mati pada awal tahun 2016 (2/1), hubungan Iran dengan Arab Saudi semakin memanas.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mengecam eksekusi tersebut. Kedutaan Besar Saudi di Teheran bahkan sempat diserang pengunjuk rasa yang marah dengan keputusan eksekusi tersebut. Tak mau kalah, Saudi pun langsung membalasnya dengan  memutus hubungan diplomatik kedua negara.

Memburuknya hubungan kedua negara ini semakin melengkapi perseteruan mereka dalam sejumlah konflik kawasan beraroma geopolitik, seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman. Uniknya, menyitir Fawaz Gerges (kepala kajian Timur Tengah pada London School of Economics), kedua Negara itu justru sama-sama memosisikan diri sebagai korban dalam ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.

Hal itu dengan jelas tergambar dalam perang opini yang di lancarkan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) kedua negara pada kolom opini The New York Times beberapa waktu lalu.

Opini Iran

Pada 10 Januari 2016, Menlu Iran Javad Zarif membuka perang opininya terhadap Saudi di The New York Times melalui tulisannya yang berjudul, “Saudi Arabia’s Reckless Extremism”. Javad Zarif membuka artikelnya dengan menyebut prioritas utama kebijakan luar negeri Iran adalah bersahabat dengan semua negara tetangga dan bekerjasama dalam memerangi ekstremisme. Hal itu ditunjukkan Iran, saat Presiden Hassan Rouhani menawarkan inisiatif World Against Violence and Extremism, pada September 2013.

Namun menyusul penandatanganan perjanjian-sementara nuklir pada November 2013, Javad Zarif menyinggung Saudi telah mengerahkan sumber dayanya untuk merusak perjanjian itu. Saudi khawatir bahwa hilangnya tirai isu nuklir akan membeberkan ancaman global yang sebenarnya: yakni dukungan aktifnya terhadap kejahatan ekstremisme.

Bagi Javad Zarif, kebiadaban ekstremis itu tampak jelas. Di dalam negeri, para algojo memancung kepala-kepala dengan pedang, seperti eksekusi atas 47 tahanan dalam satu hari, termasuk ulama Nimr Baqir an-Nimr. Di luar negeri, orang-orang bertopeng menyembelih kepala-kepala dengan pisau.

Javad Zarif bahkan menyindir para pelaku dari banyak aksi teror itu, mulai dari peristiwa horor 11 September, tragedi penembakan di San Bernardino dan semua anggota kelompok ekstremis seperti Al Qaida dan Front an-Nusra, adalah warga negara Saudi atau, jika tidak, orang-orang yang dicuci-otaknya oleh para penghasut yang dibiayai oleh petro-dollar.

Javad Zarif juga menuduh Saudi telah mendorong instabilitas kawasan dengan menyulut perang di Yaman dan mensponsori ekstremisme; serta memprovokasi Iran secara langsung. Namun provokasi itu tidak berhasil menarik perhatian internasional, terutama berkat kehati-hatian Iran dalam menahan diri.

Kehati-hatian itu Iran tunjukkan dengan mengutuk penyerangan terhadap kedutaan dan konsulat Saudi di Teheran pada 2 Januari lalu, dan menjamin keamanan seluruh diplomat Saudi serta membawa para penyerang itu ke meja hijau.  Sebaliknya, Saudi selama tiga tahun terakhir justru menarget langsung fasilitas diplomatik Iran di Yaman, Lebanon dan Pakistan – membunuh para diplomat dan warga negara Iran.

Oleh sebab itulah, Javad Zarif memberikan dua opsi kepada Saudi: Mereka dapat melanjutkan dukungan kepada para ekstremis; atau memilih untuk berperan aktif dalam meningkatkan stabilitas kawasan. Iran berharap akal sehatlah yang akan menang.

Opini Saudi

Sembilan hari setelah tulisan Javad Zarif dimuat kolom opini The New York Times, Menlu Saudi Adel Al-Jubeir memberikan tanggapannya (19/1). Dalam artikelnya yang berjudul “Can Iran Change?”, Al-Jubeir  menangkis balik tuduhan Javad Zarif. Menurut Al-Jubeir Iran-lah yang menyebarkan dan memberikan dukungan kepada terorisme, seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman dan milisi sektarian di Irak.

Iran atau proksinya adalah pihak yang bertanggungjawab atas serangan teroris di seluruh dunia, termasuk pengeboman barak Marinir Amerika di Beirut (1983), Menara Khobar di Saudi (1996), dan pembunuhan di restoran Mykonos di Berlin (1992). Al-Jubeir juga menyebut pengambilalihan Kedutaan Amerika di Teheran (1979), dan serangan terhadap berbagai kedutaan di Inggris, Denmark, Kuwait, dan Rusia serta penyerangan kedutaan Saudi di Iran baru-baru ini dilakukan proxy Iran.

Selain itu, Al-Jubeir juga menyinggung tindakan Iran dan proksinya Hizbullah di Lebanon dalam perang terhadap oposisi Suriah telah membantu Daesh semakin berkembang. Al Jubeir menuding bahwa tujuan Iran mendukung rezim Suriah Bashar Al-Assad tetap berkuasa adalah untuk mengamankan kepentingan mereka. Mengutip laporan pada tahun 2014 oleh Departemen Luar Negeri AS, Al-Jubeir mengatakan “Iran memandang Suriah sebagai jalan lintas utama untuk rute pasokan senjata kepada Hizbullah.”

Karena alasan itulah, Saudi dan sekutu Teluk tidak memiliki pilihan selain terus menolak ideologi ekspansionis Iran dan menanggapi dengan tegas setiap tindakan agresi yang bisa mengancam keamanan Saudi.

Pada akhirnya, Al-Jubeir meminta perubahan sikap Iran, dari negara revolusioner yang tidak menghormati negara lain menjadi anggota terhormat dari masyarakat internasional.

Sikap Kita

Mengingat perang opini Iran-Saudi masih terus berlangsung hingga saat ini, adalah penting bagi Indonesia untuk mengantisipasinya. Mengapa? Sebab perang opini itu akan membuat WNI tergiring ke dalam konflik sektarian. Apalagi kita tahu Indonesia telah memiliki sejarah pertentangan teologi antara kelompok suni dan syiah. Pertentangan teologi itu bahkan sempat berujung pada kekerasan sektarian terhadap warga Syiah, di Sampang (Madura) pada 29 Desember 2011 dan 26 Agustus 2012.

Untuk itu, Indonesia perlu memperkuat kembali ideologi pancasila yang saat ini mulai kehilangan ruh-nya. Hal itu perlu dilakukan agar keberagaman dan keharmonisan dalam kehidupan beragama di Indonesia dapat terjaga dan NKRI pun tetap berdiri tegak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s