Pesan untuk Aung San Suu Kyi

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Belum lama ini, tokoh demokrasi Myanmar dan juga peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi kembali mendapat sorotan dunia internasional. Sebabnya adalah karena pernyataannya yang menyebut “No one told me I’m going to be interviewed by a Muslim.”

Pernyataan yang tertulis di buku biografi berjudul “The Lady and The Generals: Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom” yang ditulis oleh Peter Popham, jurnalis The Independent tersebut, dikeluarkan Suu Kyi karena ‘kehilangan kesabaran’ usai diwawancara presenter acara BBC Today, Mishal Husain.yang berdarah Pakistan, pada 2013 silam.

Dalam wawancara dengan Suu Kyi, Husain sebelumnya mempertanyakan sikap presiden Partai NLD tersebut, yang menolak mengecam sentimen anti-Islam dan pembantaian umat Muslim di Myanmar. Padahal sudah tiga tahun terakhir ini (2013-2016) etnis tersebut hidup sengsara dikamp pengungsi di Myanmar dan di berbagai negara. Itulah sebab, isu Rohingya menjadi sorotan ASEAN dan dunia internasional, apalagi sejak ribuan pengungsi dari Myanmar dan Bangladesh sampai bisa terdampar di Aceh, Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya.

Karena alasan itulah, menjadi wajar apabila ratusan aktivis di Indonesia melalui wadah Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang diterima oleh Suu Kyi, pada tahun 2012.

Menurut hemat penulis, ada dua alasan penting mengapa Nobel Perdamaian Suu Kyi mesti dicabut. Pertama, ketika menerima penyerahan Nobel Perdamaian di ibukota Norwegia, Oslo, pada 16 Juni 2012, Suu Kyi memberikan sekelumit pidato yang sangat bertolak belakang dengan sikapnya terkait isu penderitaan etnis Rohingya. Kedua, terkait dengan tanggung jawab etika, yang praktis tidak terlihat sama sekali dalam sisi kemanusiaan Suu Kyi, padahal ia selama ini dikenal sebagai pejuang demokrasi dan HAM yang paling gigih di Myanmar.

Beban Nobel

Sebagaimana diketahui, saat menerima penghargaan Nobel Perdamaian, Suu Kyi telah memberikan pidato yang sangat menggugah di hadapan Yayasan Nobel tentang demokrasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, adalah perlu untuk mengevaluasi poin-poin penting pidato Suu Kyi tersebut.

Dalam pidatonya, Suu Kyi mengatakan Nobel Perdamaian telah membuat dunia ingat akan adanya perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia di Myanmar. Jika hal itu dikaitkan pada masa junta militer, pernyataan Suu Kyi tentu tepat adanya. Karena ia adalah tokoh dibalik penentang rezim junta militer di Myanmar. Namun jika ini dikaitkan dengan kasus kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar, pidato Suu Kyi tentu menjadi bertolak belakang karena ia sendiri tidak tergerak untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia etnis minoritas muslim tersebut.

Suu Kyi dalam pidatonya juga menuturkan bahwa sikap tidak mempedulikan orang lain merupakan bibit dari konflik dan peperangan. Suu Kyi seharusnya menyadari bahwa saat ini, dirinya pun telah bersikap seperti itu pada nasib etnis Rohingya sehingga konflik dan pembantaian terhadap etnis tersebut terus terjadi hingga saat ini.

Pada akhir pidato optimisnya itu, Suu Kyi juga berharap bahwa tidak akan ada lagi pengungsi, tunawisma, atau orang-orang yang putus asa. Ia juga membayangkan suatu dunia dimana tak akan ada lagi ketakutan dan setiap manusia kini bisa saling bergandengan tangan satu sama lain untuk menciptakan perdamaian. Tetapi pada kasus pembantaian etnis Rohingya, Suu Kyi malah menutup mata, termasuk ketika presiden Myanmar saat itu (Thein Sein) menggiring etnis muslim tersebut ke kamp-kamp pengungsi. Dengan begitu, apa yang disampaikan Suu Kyi dalam pidatonya itu hanyalah sebuah kiasan seremonial nobel semata. Jika memang Suu Kyi mendambakan perdamaian, ia seharusnya menjadi tokoh Myanmar yang paling depan dalam mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Dalam konteks pidato itulah, Suu Kyi seharusnya merasa terbebani dengan penghargaan Nobel Perdamaian yang diperolehnya. Hal ini menjadi penting diperhatikan Suu Kyi, agar ia menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya.

Tanggung Jawab Etika

Selain itu, ada soal lain yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh Suu Kyi, yakni sebagai pejuang HAM ia sama sekali tidak memiliki, apa yang diistilahkan filsuf Perancis Emmanuel Levinas (1906-1995), tanggung jawab etika terhadap kemanusiaan.

Levinas pernah mengingatkan, di samping Anda ada Orang lain. Jumpailah dia. Perjumpaan semacam ini merupakan peristiwa terhebat dan pengalaman terpenting dalam hidup Anda. Tataplah wajah orang lain itu saat dia di hadapan Anda. Melalui wajah ini, dia memperlihatkan diri Anda yang sebenarnya: lebih dari itu, dia membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan. Levinas bahkan melangkah lebih jauh lagi, Anda tidak cukup hanya menjumpai, menerima, dan berbicara dengan Orang lain itu, tetapi juga harus bertanggungjawab secara etik terhadapnya (Ryszard Kapuscinski, 2008). Tanggung jawab etika ini bukanlah pilihan tapi suatu keharusan. Itu artinya, kita memiliki tanggung jawab pada mereka yang kita tidak tahu, pada mereka yang tidak terkait apapun dengan kita, baik dalam hal keluarga, komunal, atau kesetiaan nasional. Sederhananya, kita tanpa syarat bertanggung jawab atas kehidupan Orang lain, dan ini adalah perintah hidup yang disajikan dunia pada kita

Dalam konteks inilah, Suu Kyi seperti kehilangan rasa kemanusiaannya. Jangankan terpanggil untuk merasa bertanggung jawab secara etik terhadap nasib etnis Rohingya (the other), untuk menatap wajah etnis tersebut saja Su Kyi seperti terlihat enggan untuk melakukannya. Mungkin itulah alasan mengapa Suu Kyi menolak untuk mengecam mereka yang antimuslim dan melakukan berbagai tindak kekerasan sehingga etnis minoritas muslim Rohingya terpaksa harus meninggalkan Myanmar.

Jika Suu Kyi tak ingin mendapat sorotan dunia internasional dan nobel perdamaiannya digugat, lakukanlah sesuai dengan apa yang sudah diucapkannya pada saat pidato penerimaan nobel. Terkait Rohingya,  berkacalah pada filosofi Levinasian, agar bisa lebih peka lagi terhadap kemanusiaan. Sikap seperti ini tentunya tak sulit dilakukan oleh Suu Kyi, mengingat Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) yang dipimpinnya berhasil memenangkan pemilu dan mengusai kursi pemerintahan. Suu Kyi bahkan duduk sebagai menteri luar negeri (menlu) dalam kabinet baru Myanmar. Posisi politik seperti itu, idealnya akan membuat Suu Kyi lebih leluasa untuk mengembalikan citranya yang terus memburuk di mata dunia internasional. Demikianlah pesan ini penulis sampaikan untuk Aung San Suu Kyi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s