Bom Nuklir dan Tamatnya Imajinasi

roy

Oleh Asrudin Azwar

Ada satu pendekatan paling dominan dalam ilmu Hubungan Internasional (HI) yang simplistik menjelaskan realitas politik internasional, yakni realisme. Itu artinya realisme adalah pendekatan yang gampang menyederhanakan persoalan-persoalan yang terjadi dalam arena politik internasional.

Kita bisa melihat itu ketika kaum realisme membuat sejumlah kata kunci: kepentingan nasional adalah mutlak, perang adalah rasional, manusia adalah immoral, dan sistem internasional adalah anarkis. Untuk itu, menurut realis, solusinya pun simplistik: perimbangan kekuatan. Dengan begitu, kepemilikan senjata nuklir menjadi penting. Kalau negara-negara kuat sama-sama memiliki nuklir, senjata ini bisa difungsikan sebagai penangkal dan perdamaian di antara mereka bisa diciptakan.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang motor pendekatan realisme (neo-realisme), Kenneth N. Waltz , dalam tulisannya berjudul The Spread of Nuclear Weapons: More May Better bahwa, “semakin banyak negara nuklir, masa depan dunia akan jauh lebih menjanjikan.” Alasan Waltz adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap akan mempertahankan keunggulannya dalam kepemilikan WMD dan bahwa penyebaran senjata nuklir akan mampu meningkatkan penahanan diri dan mencegah perang seperti di masa Perang Dingin. Continue reading

Stanley Hoffman dan HI Sebagai Ilmu Sosial Amerika

stanley-hoffmann_605

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dibuat untuk mengenang salah seorang ilmuwan HI terbaik yang pernah ada).

Pada 13 September 2015, dunia akademis hubungan internasional telah kehilangan salah seorang ilmuwan terbaiknya. Ia adalah Stanley Hoffmann, The Paul and Catherine Buttenwieser University Profesor Emeritus di Harvard University. Hoffman meninggal pada usia 86 tahun di Cambridge setelah lama menderita sakit.

Penulis 19 buku dan banyak artikel untuk jurnal ilmiah serta surat kabar terkemuka dan publikasi seperti The New York Review of Books, Hoffmann telah menjadi intelektual publik terkemuka di kedua sisi Atlantik selama lebih dari 50 tahun. Sebagai seorang sarjana hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Amerika, serta politik Perancis dan Eropa, ia meninggalkan bekas mendalam pada pemahaman kontemporer untuk beberapa masalah mengenai hubungan internasional. Continue reading

All Men Are Brothers

51uizoqihyl-_sy344_bo1204203200_51yepxom2zl-_sy344_bo1204203200_

Oleh Asrudin Azwar

Agama, kata Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life, adalah belas kasih. Yang dimaksud Armstrong dengan belas kasih adalah menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Itulah sebabnya Armstrong mamaknai belas kasih dalam istilah Konfusius: Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Namun ironisnya, kini yang berkembang justru adalah apa yang penulis sebut sebagai “Kaidah Lumpur”. Kaidah ini bukannya membuat orang menjadi peka dalam melihat penderitaan orang lain. Tetapi sebaliknya, merasa bahagia jika melihat orang lain menderita. Bahkan kaidah ini telah membuat orang menjadi lebih destruktif dan senang menimbulkan rasa sakit pada diri orang lain: memukul dan membunuh. Continue reading

President Obama’s Farewell Speech: Sebuah Catatan

Oleh Asrudin Azwar (catatan saya atas Pidato Perpisahan Presiden Barack Obama)

Pidato perpisahan PRESIDEN Barack Obama sebagai pemimpin negeri Paman Sam, pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu (11/1) WIB di Chicago, menurut hemat saya, sangat menggugah. Apalagi pidato perpisahan Obama itu telah disusun bersama stafnya selama berbulan-bulan. Ibarat masakan, pidato Obama ini telah disiapkan dengan matang.

Jadi wajar saja jika Obama berhasil membuat para pecintanya terkesima. Dalam pidato yang hampir satu jam lamanya itu Obama mengawalinya dengan ucapan terima kasih atas kesempatan berkomunikasi dengan rakyat yang telah membuat dirinya jujur dan terilhami. Ini adalah pembuka pidato yang sangat baik, mengingat Obama bisa menjadi presiden karena peran besar rakyatnya. Continue reading

Islam and the Secular State

islam-book

Oleh Asrudin Azwar (Review singkat atas buku Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State)

Lagi iseng mencari data tentang Islam di Google untuk Bab tentang Islam dalam buku Teori-Teori HI yang sedang saya rampungkan, nemu bukunya pemikir muslim terkemuka asal Sudan Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State (download). Dalam bukunya itu An-Na’im rupanya memasukkan satu Bab khusus yang mengulas tentang Realitas Keberagaman dan Prospek Pluralisme di Indonesia.

An-Na’im di Bab itu menyoroti perdebatan seputar hubungan antara Islam, negara, dan masyarakat di Indonesia. Menurutnya adalah sebuah kekeliruan bila kita membayangkan adanya dikotomi yang tajam antara negara Islam dan negara Sekular hanya dengan melihat adanya institusi politik sekular, terutama dalam kondisi masyarakat Muslim dewasa ini. Sekularisme tidak mesti meminggirkan Islam dari kehidupan publik atau membatasi perannya pada domain privat dan personal. Continue reading