President Obama’s Farewell Speech: Sebuah Catatan

Oleh Asrudin Azwar (catatan saya atas Pidato Perpisahan Presiden Barack Obama)

Pidato perpisahan PRESIDEN Barack Obama sebagai pemimpin negeri Paman Sam, pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu (11/1) WIB di Chicago, menurut hemat saya, sangat menggugah. Apalagi pidato perpisahan Obama itu telah disusun bersama stafnya selama berbulan-bulan. Ibarat masakan, pidato Obama ini telah disiapkan dengan matang.

Jadi wajar saja jika Obama berhasil membuat para pecintanya terkesima. Dalam pidato yang hampir satu jam lamanya itu Obama mengawalinya dengan ucapan terima kasih atas kesempatan berkomunikasi dengan rakyat yang telah membuat dirinya jujur dan terilhami. Ini adalah pembuka pidato yang sangat baik, mengingat Obama bisa menjadi presiden karena peran besar rakyatnya.

Namun ada satu hal dari pidato perpisahan Obama yang menarik perhatian saya, yakni bahasannya tentang demokrasi. Capaian Obama selama delapan tahun di bawah kepemimpinannya seperti memberangus dan menangkapi para teroris, termasuk pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden, serta komitmennya yang tinggi untuk menundukkan kekuatan Iraqi Syria Islamic State (ISIL), justru tidak membuat saya tertarik.

Dalam bahasannya tentang demokrasi, Obama mengingatkan rakyatnya tentang kesepakatan yang telah dibangun oleh para pendiri negara Amerika: Democracy does not require uninformity. Demokrasi tidak mensyaratkan keseragaman. Demokrasi katanya, membutuhkan rasa solidaritas yang mendasar, sebuah ide yang mengingatkan kita semua, lepas dari perbedaan di antara sesama warga, kita melaluinya bersama; kita bangun dan jatuh sebagai satu kesatuan warga bangsa. Itu artinya demokrasi telah memberikan kesetaraan, keterbukaan, dan kebebasan bagi rakyat Amerika tanpa melihat warna kulit, agama, etnis, gender, ataupun orientasi seksualnya, Obama bahkan menegaskan sikapnya yang menolak diskriminasi terhadap warga muslim di Amerika.

Tak bisa kita pungkiri, Amerika bisa menjadi besar seperti sekarang ini karena peran sistem demokrasi. Tapi sayang dalam urusan kebijakan luar negeri Amerika, Obama tidak menyinggung sama sekali prinsip-prinsip demokrasi. Padahal seperti halnya Bill Clinton dan George W. Bush, Obama adalah seorang pemercaya yang kuat atas diktum democratic peace yang menyebutkan bahwa sesama negara demokrasi saling menghormati satu sama lain, toleran satu sama lain, bahkan tidak berperang satu sama lain (lihat video berikut).

Itu artinya apa yang disampaikan Obama tentang demokrasi, baik tersirat atau pun tersurat, dimaksudkan hanya untuk kebaikan publik Amerika (untuk kepentingan nasional Amerika). Dengan demikian, untuk urusan kebijakan luar negeri Amerika, realisme politik tetap akan selalu menjadi prioritas utama, sementara idealisme politik yang dikemas dalam diktum democratic peace hanyalah retorika kebijakan luar negeri Amerika semata. Diktum ini digunakan Amerika sebatas untuk mengekspor demokrasi ke negara-negara otoriter yang dianggap tidak bersahabat dengan Amerika. Harapannya adalah ketika negara tersebut menjadi demokrasi, negara itu akan jauh lebih bersahabat dengan Amerika. Tapi jika ternyata demokrasi tidak juga membuat negara tersebut menjadi bersahabat, maka Amerika tetap akan menjadikan negara tersebut sebagai musuh.

Oleh sebab itu, jangan heran jika Amerika pernah memasukkan negara-negara yang non-demokratik sebagai sahabatnya seperti Mesir, Saudi Arabia, Pakistan, Singapura, Indonesia dimasa Suharto, Tito (Yugoslavia), Salazar dari Portugal, Franco dari Spanyol, Turki di bawah rezim militer, dan banyak negara Amerika Latin sebelum trend demokrasi muncul. Kesimpulannya, meskipun pemerintahan otoriter adalah negara yang tidak stabil, tetapi itu tidak berarti bahwa AS dapat dengan mudah melepaskan mereka sebagai sekutu, dan itu juga tidak berarti bahwa demokrasi akan membuat mereka lebih bisa dipercaya (Cili yang demokratis diera kepemimpinan Salvador Allende pada 1970 adalah bukti bagus tentang ini).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s