All Men Are Brothers

51uizoqihyl-_sy344_bo1204203200_51yepxom2zl-_sy344_bo1204203200_

Oleh Asrudin Azwar

Agama, kata Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life, adalah belas kasih. Yang dimaksud Armstrong dengan belas kasih adalah menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Itulah sebabnya Armstrong mamaknai belas kasih dalam istilah Konfusius: Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Namun ironisnya, kini yang berkembang justru adalah apa yang penulis sebut sebagai “Kaidah Lumpur”. Kaidah ini bukannya membuat orang menjadi peka dalam melihat penderitaan orang lain. Tetapi sebaliknya, merasa bahagia jika melihat orang lain menderita. Bahkan kaidah ini telah membuat orang menjadi lebih destruktif dan senang menimbulkan rasa sakit pada diri orang lain: memukul dan membunuh.

Dengan demikian, kegiatan beragama tidak lagi bermakna sebagai belas kasih.  Oleh sebab itu,  tiap kali orang bicara soal agama, maka kebenaran dari agama-nya saja yang kemudian selalu ditonjolkan, sementara agama yang lain dianggap salah. Akibatnya, orang menjadi jarang membicarakan hal yang jauh lebih substantif dari itu, seperti membicarakan kebaikan dari apa yang telah diajarkan oleh agamanya.

Padahal jika saja hal yang substantif itu dilakukan, tidak akan ada lagi yang namanya benturan antar pemeluk agama, karena manusia akan disibukkan dengan menebarkan benih-benih kebaikan yang telah diajarkan oleh agamanya (belas kasih/kaidah emas).

Dalam konteks inilah, penulis menjadi teringat pada satu wejangan bermanfaat yang pernah diucapkan oleh Mahatma Ghandi dalam tulisannya “Religion and Truth” dibukunya yang berjudul All Men Are Are Brothers: Life & Thoughts of Mahatma Gandhi.

Kata Ghandi,

Supposing a Christian came to me and said he was captivated by the reading of Bhagavat and so wanted to declare himself a Hindu, I should say to him: ‘No. What Bhagavat offers, the Bible also offers. You have not made the attempt to find it out. Make the attempt and be a good Christian.” (jika ada orang beragama Kristen datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia sangat terkesan setelah membaca kitab Bhagawat dan oleh karena itu ingin menyatakan diri menjadi pemeluk agama Hindu, saya akan mengatakan: “Jangan! Apa yang diberikan oleh Bhagawat, juga diberikan oleh kitab Injil. Anda belum berusaha menemukannya. Berusahalah dan jadilah pemeluk agama Kristen yang baik).

Intinya, akan menjadi lebih baik jika semua pemeluk agama memiliki sikap yang sama dengan Mahatma Ghandi. Saya sendiri akan melakukan hal yang sama dengan Ghandi, ketika sebagai misal, ada orang yang datang kepada penulis dan mengatakan ingin masuk Islam.

Penulis membayangkan, akan menjadi menarik apabila pemikiran kaidah emas Konfusius yang dirujuk oleh Karen Armstrong dan pemikiran Gandhi tentang agama ini diterapkan dalam pemikiran internasional. Karena dengan bercermin pada pemikiran Armstrong dan Gandhi, agama bisa menjadi wadah untuk memecahkan problematika-problematika internasional, karena semua manusia pada dasarnya adalah bersaudara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s