Stanley Hoffman dan HI Sebagai Ilmu Sosial Amerika

stanley-hoffmann_605

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dibuat untuk mengenang salah seorang ilmuwan HI terbaik yang pernah ada).

Pada 13 September 2015, dunia akademis hubungan internasional telah kehilangan salah seorang ilmuwan terbaiknya. Ia adalah Stanley Hoffmann, The Paul and Catherine Buttenwieser University Profesor Emeritus di Harvard University. Hoffman meninggal pada usia 86 tahun di Cambridge setelah lama menderita sakit.

Penulis 19 buku dan banyak artikel untuk jurnal ilmiah serta surat kabar terkemuka dan publikasi seperti The New York Review of Books, Hoffmann telah menjadi intelektual publik terkemuka di kedua sisi Atlantik selama lebih dari 50 tahun. Sebagai seorang sarjana hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Amerika, serta politik Perancis dan Eropa, ia meninggalkan bekas mendalam pada pemahaman kontemporer untuk beberapa masalah mengenai hubungan internasional.

Di dunia politik dan HI, Hoffman memang dikenal sebagai figur penting dalam studi Politik Perancis, Perbandingan Politik Eropa, dan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat. Sementara dari sisi pandangan dunianya, Hoffman dikenal sebagai seorang liberal Weberian tragis. Pandangan itu ia peroleh ketika berguru dengan mentor intelektualnya, Raymond Arond (pemikir realis asal Perancis). Meski begitu, Hoffman bukanlah tipe murid yang membeo. Ia justru menentang pandangan realisme politik Arond. Sepanjang karirnya di dunia HI, Hoffman banyak terlibat perdebatan dengan para ilmuwan HI dan pembuat kebijakan penganut paham realisme politik, seperti Morgenthau, Kennan, dan Kissinger. Pandangan ini tetap konsisten dianutnya, hingga kematian menjemputnya.

Namun, bukan pandangan liberal Weberian tragislah yang membuat penulis terkesan terhadap Hoffman. Karena dari sisi ini, penulis jelas bertentangan dengannya. Yang membuat penulis terkesan padanya adalah ketika ia menulis artikel di jurnal Daedalus, 40 tahun lalu (1977), berjudul An American Social Science: International Relations (download).

Dalam jurnal tersebut, Hoffman dengan lugas mengatakan bahwa Ilmu HI adalah sebuah ilmu sosial Amerika. Menurut Hoffman disiplin HI dikembangkan bukan di Inggris (di mana departemen universitas pertamanya dibentuk pada 1919) tapi di Amerika setelah Perang Dunia Kedua. Hoffman mencatat hal ini dikarenakan adanya keadaan khusus dengan tiga sebab. Keadaan utamanya adalah ‘kebangkitan Amerika menjadi kekuatan dunia’, dan penyebabnya adalah ‘kecenderungan intelektual, keadaan politik, dan kesempatan institusional’.

Hoffman mencatat tiga kecenderungan intelektual itu sebagai berikut. Pertama, masalah dapat dipecahkan dengan metode ilmiah, dan hal ini akan menghasilkan kemajuan; Kedua, HI sebagai ilmu sosial mendapat keuntungan dari status yang selaras dengan ilmu alam, dan ekonomi; Ketiga, dampak sarjana-sarjana Eropa yang berpindah ke Amerika, yang datang dari sebuah tradisi intelektual yang sangat berbeda dari HI di Amerika, cenderung mengajukan lebih banyak pertanyaan besar, tentang tujuan ketimbang sarana, tentang pilihan ketimbang teknik, dan menanyakannya secara lebih konseptual ketimbang rekan-rekan Amerika-nya.

Keadaan politik, terutama kenyataan bahwa Amerika berperan dalam urusan dunia membuat sebuah pengalaman transformasi mendasar, yang berarti bahwa teorisi-teorisi politik di Amerika berkepentingan pada kekuatan untuk perjuangan kekuasaan terbesar di dunia dari depan pintunya, bernama konfrontasi Amerika-Soviet. Ini juga berarti bahwa para pembuat kebijakan membutuhkan saran kepakaran dan opini-opini yang tepat di mana komunitas HI yang sedang berkembang menawarkannya. Seperti dikatakan Hoffmann: ‘Apa yang dicari para pemimpin, ketika perang dingin dimulai, adalah bimbingan intelektual ”Realisme”.

Terakhir, ada tiga rangkai kesempatan institusional di mana Hoffmann berpendapat hal itu tidak ada di manapun di dunia selain di Amerika: hubungan antara komunitas akademis dan pemerintah, yang mengartikan bahwa akademisi dan pembuat kebijakan selalu berinteraksi secara intens; antara universitas-universitas dan para pemikir, serta pemerintah; eksistensi landasan kuat yang menghubungkan ’dapur kekuasaan’ dengan ’salon akademis’, dan dengan begitu dapat menciptakan ’pluralisme tanpa cacat’ untuk menghubungkan perhatian kebijakan pemerintah kepada komunitas penelitian akademis; dan, kenyataan bahwa universitas-universitas bergerak leluasa dan bekerja dalam pasar dan industri pendidikan massal yang mengizinkan mereka untuk berinovasi dan membuat spesialisasi kegiatan penelitian mereka –ringkasnya mereka mampu menanggapi kebutuhan pemerintah yang hal itu mustahil dilakukan di universitas-universitas Eropa pada waktu itu.

Jika dikaji secara akademis, studi Hoffman ada benarnya. Apalagi studi Hoffman itu telah mendapatkan penegasan lebih lanjut dari studi yang pernah dilakukan oleh Kal Holsti dalam bukunya The Dividing Discipline: Hegemony and Diversity in IR (1985); Hayward Alker & Thomas Biersteker dalam artikelnya di International Studies Quarterly (1984) berjudul The Dialectic of World Order: Notes for a Future Archeologist of International Savoir Faire; Ole Waever dalam artikelnya di jurnal International Organization (1998) berjudul “The Sociology of a Not So International Discipline: America and European Developments in IR”; dan Steve Smith dalam artikelnya di The British Journal of Politics and International Relations (2000) berjudul “The discipline of international relations: still an American social science?”. Bagi para ilmuwan tersebut, HI hingga kini masih tetap seperti apa yang dinilai oleh Hoffman: ilmu sosial Amerika.

Sungguh pernyataan yang menyebutkan HI sebagai ilmu sosial Amerika itu sangat mengena, khususnya jika ditujukan kepada ilmuwan HI non Barat (Amerika). Bagi penulis, pernyataan Hoffman ini seharusnya dijadikan tantangan tersendiri bagi para ilmuwan HI non Barat. Untuk itu, para ilmuwan HI non Barat kini sudah harus mulai berpikir dan mengkaji pendekatan-pendekatan alternatif yang solutif untuk problem hubungan internasional berdasarkan perspektifnya sendiri. Agar ke depan, pandangan Barat (Amerika) tentang HI sebagai pemahaman yang terkuatlah yang berkuasa (realis) atau yang berhak mengatur sistem internasional, sedikit demi sedikit bisa tergeser dan mungkin akan membuatnya menjadi usang. Utopis memang. Tapi disitulah tantangan yang mesti dijawab oleh para ilmuwan HI non Barat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s