Bom Nuklir dan Tamatnya Imajinasi

roy

Oleh Asrudin Azwar

Ada satu pendekatan paling dominan dalam ilmu Hubungan Internasional (HI) yang simplistik menjelaskan realitas politik internasional, yakni realisme. Itu artinya realisme adalah pendekatan yang gampang menyederhanakan persoalan-persoalan yang terjadi dalam arena politik internasional.

Kita bisa melihat itu ketika kaum realisme membuat sejumlah kata kunci: kepentingan nasional adalah mutlak, perang adalah rasional, manusia adalah immoral, dan sistem internasional adalah anarkis. Untuk itu, menurut realis, solusinya pun simplistik: perimbangan kekuatan. Dengan begitu, kepemilikan senjata nuklir menjadi penting. Kalau negara-negara kuat sama-sama memiliki nuklir, senjata ini bisa difungsikan sebagai penangkal dan perdamaian di antara mereka bisa diciptakan.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang motor pendekatan realisme (neo-realisme), Kenneth N. Waltz , dalam tulisannya berjudul The Spread of Nuclear Weapons: More May Better bahwa, “semakin banyak negara nuklir, masa depan dunia akan jauh lebih menjanjikan.” Alasan Waltz adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap akan mempertahankan keunggulannya dalam kepemilikan WMD dan bahwa penyebaran senjata nuklir akan mampu meningkatkan penahanan diri dan mencegah perang seperti di masa Perang Dingin.

Tetapi cara berpikir  itu mendapat tentangan kuat dari Arundhati Roy, penulis novel The God of Small Things yang berhasil meraih Booker Prize. Menurut Arundhati, cara berpikir realis begitu imajinatif, sampai lupa bahwa tidak semua manusia (pemimpin politik) adalah rasional. Banyak pemimpin-pemimpin politik irasional, yang sewaktu-waktu bisa saja memencet tombol dan menghancurkan dunia dalam sekejap. Senjata nuklir, tegas Arundhati, justru akan membuat tamatnya imajinasi manusia dalam berpikir.

Dalam The End of Imagination,  esai yang ditulis Arundhati pada Juli 1998 dan diterbitkan serentak di dua majalah mainstream Frontline dan Outlook pada Agustus 1998, ia menyindir mereka yang menganggap senjata nuklir perlu ada untuk perdamaian atau dalam bahasa politik realisme berfungsi sebagai “Penangkal”. Padahal, kata Arundhati, penangkal adalah istilah gaduh orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai ‘elang’, bahwa mereka adalah burung-burung yang manis; dingin; modis; predator. Sayang, katanya lagi, tidak banyak jumlah mereka setelah perang. ‘Kepunahan’ justru adalah kata kunci yang mesti kita gunakan.

Bagi Arundhati penangkalan adalah tesis lama yang telah dibangkitkan dan diatur ulang dengan tambahan selera lokal. Teori Penangkalan menyudutkan usaha mencegah Perang Dingin agar tidak menjadi Perang Dunia Ketiga. Satu-satunya fakta yang terus ada mengenai Perang Dunia Ketiga ialah bahwa jika hal itu benar terjadi, waktunya adalah setelah Perang Dunia Kedua. Dengan kata lain, kita masih punya waktu. Benar, Perang Dingin sudah berakhir, tetapi Arundhati mengingatkan kita untuk jangan diperdaya oleh ninabobo selama sepuluh tahun a la nuklir. Ninabobo itu hanya lelucon yang kejam. Ia baru dalam remisi. Ia tidak dilenyapkan. Ia tidak membuktikan teori-teori.

Oleh sebab itulah, Arundhati sampai pada kesimpulan bahwa:

“senjata nuklir merupakan benda paling anti demokrasi, antinasional, antimanusia, paling jahat yang pernah dibuat manusia. Jika Anda orang yang religius, maka ingatlah bahwa senjata nuklir adalah tantangan Manusia kepada Tuhan. Tantangan itu diungkapkan dengan cukup sederhana: kami punya kekuatan untuk menghancurkan segala sesuatu yang telah Kau ciptakan. Sebaliknya jika Anda bukan orang religius, maka lihatlah dengan cara ini. Dunia kita ini sudah berusia empat ribu enam ratus juta tahun. Dan dunia dapat berakhir hanya dalam hitungan sepetang (The nuclear bomb is the most anti-democratic, anti-national, anti-human, outright evil thing that man has ever made. If you are religious, then remember that this bomb is Man’s challenge to God. It’s worded quite simply: We have the power to destroy everything that You have created. If you’re not religious, then look at it this way. This world of ours is four billion, six hundred million years old. It could end in an afternoon)”.

Dalam konteks ini, pendekatan realisme menjadi sangat problematis. Boleh jadi realisme adalah teori yang paling akurat dalam memprediksi realitas politik internasional. Tapi untuk urusan pemecahan masalah dalam sistem internasional, realisme adalah teori yang sangat berbahaya dan hanya akan memandu dan menceburkan negara-negara ke dalam lingkaran setan sistem internasional yang anarkis.

Karena itu, ketika mengupas soal nuklir, bukan paradigma berpikir realisme yang terbesit dalam benak penulis, tetapi pada imajinasi dan literatur Arundhati Roy. Arundhati telah menyadarkan penulis bahwa untuk isu yang satu ini, realisme tampak cacat karena terlalu menyederhanakan persoalan.

Sebagai penutup, penulis akan menyitir kalimat sakti dari Aldous Huxley, “Perang total dengan senjata nuklir tidak lagi merupakan kelanjutan dari suatu kebijakan; melainkan penghancuran total atas kebijakan itu sendiri”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s