Bersatu dan Merdeka

image-32

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

17 Agustus 2017 ini, Indonesia merayakan ulang tahun (ultah) kemerdekaannya yang ke 72. Angka ini menunjukkan Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad. Tetapi lamanya kemerdekaan ini mengundang tanya besar? Dulu Bung Karno dalam pidatonya, “Lahirnya Pancasila”, pada 1 Juni 1945 pernah menanyakan, kita ini berani merdeka atau tidak?

Pertanyaan serupa seharusnya kita ajukan juga pada hari kemerdekaan yang ke 72 ini. Dan kalau mau jujur, semestinya kita semua bersepakat untuk menjawab tidak atas pertanyaan Bung Karno tersebut. Mengapa? Karena kemerdekaan menuntut rakyat dan tempatnya (tanah air) untuk bersatu. Perjuangan melawan kolonial tak akan membuahkan kemerdekaan, jika tak ada persatuan manusia dan tempatnya! Bung Karno sendiri pernah menegaskan, “dalam soal kebangsaan, orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. 

Tetapi kini yang terjadi justru sebaliknya. Kita bisa lihat itu pada Pilgub Jakarta 2017. Dalam pesta demokrasi di Jakarta itu, gesekan di antara masyarakat begitu mengakar. Masyarakat terpecah-belah. Enggan bersatu. Hal ini terjadi lantaran isu SARA kerap dijadikan senjata politik oleh aktor politik tertentu untuk memukul aktor politik lain yang menjadi lawan politiknya. Bahkan anggapan tentang pemimpin non-muslim sebagai kafir telah dijadikan dogma yang tak terbantahkan bagi sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia. Ahok bisa dijadikan contoh bagus tentang pengkafiran yang dimaksud itu.
Continue reading

Advertisements