Memahami Politik melalui Novel “Animal Farm”

Animal Farm

Oleh Asrudin Azwar

Ada seorang teman yang awam politik menanyakan kepada saya, bagaimana memahami politik secara gampang. Saya jawab, bacalah novel alegori politik-nya George Orwell, Animal Farm (1945). Atau Jika malas membaca novel  Orwell tersebut, saran saya tonton film-nya saja (bisa ditonton dan didonlot pada situs berikut: http://lk21.net/animal-farm-1954/)

Membaca novel atau menonton film Animal Farm, politik memang jadi lebih mudah dipahami. Sebagaimana novel 1984, dalam Animal Farm, Orwell menjelaskan politik secara sedehana dan gamblang. Dalam novel itu sebagaimana digambarkan juga dalam film-nya, Orwell dengan gayanya yang satiris melukiskan bagaimana sekelompok binatang menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan yang mereka miliki.

Peternakan itu dimiliki oleh Jones tua. Dalam mengelola peternakan itu, Jones digambarkan Orwell sebagai penindas para binatang. Binatang, bagi Jones, tak lebih sebagai produk, untuk  diambil telur, susu, bulu, dan tenaganya. Jika sudah tidak membawa banyak manfaat (keuntungan), mereka akan berakhir di meja makan untuk disantap. Prilaku yang dinilai binatang-binatang tersebut sebagai tindakan yang tidak berprikebinatangan. Continue reading

Advertisements

Hannah Arendt: Filsuf yang Lugu

hannah-arendt

Oleh Asrudin Azwar

Setelah sekian kali menonton film Hannah Arendt (2012, download film), filsuf Yahudi dan teoretikus politik jenius yang menjadi tersohor karena salah satu bukunya yang paling berpengaruh di abad 20 dan begitu saya kagumi, The Origins of Totalitarianism (1951), akhirnya saya tergerak untuk menuliskannya.

Film itu bertemakan biografi: mengupas Arendt, mulai dari yang ringan (kehidupan rumahtangganya) hingga sampai ke persoalan yang berat (politik). Namun bukan persoalan ringan itu yang ingin dikupas dalam tulisan ini, melainkan pembelaan Arendt atas Adolf Eichmann. Sebagaimana diketahui pada 1961, Arendt bersama Majalah The New Yorker pergi ke Yerusalem untuk meliput pengadilan atas Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang didakwa mengarahkan pengiriman orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi dalam Perang Dunia II. Liputan (artikel) itu kemudian diperluas dan diterbitkan menjadi buku pada 1963 dengan judul Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil.

Dalam liputannya itu, Arendt mengamati bahwa pada dasarnya Eichmann tidak punya motif apa pun untuk membunuh Yahudi. Hannah menemukan fakta bahwa Eichmaan bukanlah seorang anti-Semitis. Dia tidak pernah membenci apalagi membunuh seseorang karena keyahudian-nya. Alasan Eichmann untuk “merestui” pembunuhan massal itu murni alasan birokratis. Dia melakukan itu karena hukum memerintahkan demikian dan peraturan yang berlaku ketika itu. Continue reading