Bom Nuklir dan Tamatnya Imajinasi

roy

Oleh Asrudin Azwar

Ada satu pendekatan paling dominan dalam ilmu Hubungan Internasional (HI) yang simplistik menjelaskan realitas politik internasional, yakni realisme. Itu artinya realisme adalah pendekatan yang gampang menyederhanakan persoalan-persoalan yang terjadi dalam arena politik internasional.

Kita bisa melihat itu ketika kaum realisme membuat sejumlah kata kunci: kepentingan nasional adalah mutlak, perang adalah rasional, manusia adalah immoral, dan sistem internasional adalah anarkis. Untuk itu, menurut realis, solusinya pun simplistik: perimbangan kekuatan. Dengan begitu, kepemilikan senjata nuklir menjadi penting. Kalau negara-negara kuat sama-sama memiliki nuklir, senjata ini bisa difungsikan sebagai penangkal dan perdamaian di antara mereka bisa diciptakan.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang motor pendekatan realisme (neo-realisme), Kenneth N. Waltz , dalam tulisannya berjudul The Spread of Nuclear Weapons: More May Better bahwa, “semakin banyak negara nuklir, masa depan dunia akan jauh lebih menjanjikan.” Alasan Waltz adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap akan mempertahankan keunggulannya dalam kepemilikan WMD dan bahwa penyebaran senjata nuklir akan mampu meningkatkan penahanan diri dan mencegah perang seperti di masa Perang Dingin. Continue reading

All Men Are Brothers

51uizoqihyl-_sy344_bo1204203200_51yepxom2zl-_sy344_bo1204203200_

Oleh Asrudin Azwar

Agama, kata Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life, adalah belas kasih. Yang dimaksud Armstrong dengan belas kasih adalah menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Itulah sebabnya Armstrong mamaknai belas kasih dalam istilah Konfusius: Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Namun ironisnya, kini yang berkembang justru adalah apa yang penulis sebut sebagai “Kaidah Lumpur”. Kaidah ini bukannya membuat orang menjadi peka dalam melihat penderitaan orang lain. Tetapi sebaliknya, merasa bahagia jika melihat orang lain menderita. Bahkan kaidah ini telah membuat orang menjadi lebih destruktif dan senang menimbulkan rasa sakit pada diri orang lain: memukul dan membunuh. Continue reading

Islam and the Secular State

islam-book

Oleh Asrudin Azwar (Review singkat atas buku Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State)

Lagi iseng mencari data tentang Islam di Google untuk Bab tentang Islam dalam buku Teori-Teori HI yang sedang saya rampungkan, nemu bukunya pemikir muslim terkemuka asal Sudan Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State (download). Dalam bukunya itu An-Na’im rupanya memasukkan satu Bab khusus yang mengulas tentang Realitas Keberagaman dan Prospek Pluralisme di Indonesia.

An-Na’im di Bab itu menyoroti perdebatan seputar hubungan antara Islam, negara, dan masyarakat di Indonesia. Menurutnya adalah sebuah kekeliruan bila kita membayangkan adanya dikotomi yang tajam antara negara Islam dan negara Sekular hanya dengan melihat adanya institusi politik sekular, terutama dalam kondisi masyarakat Muslim dewasa ini. Sekularisme tidak mesti meminggirkan Islam dari kehidupan publik atau membatasi perannya pada domain privat dan personal. Continue reading

Mendayung Antara Dua Karang

Mohammad Hatta-Mendayung Antara Dua Karang “Mendayung Antara Dua Karang.” Sebuah judul pidato Mohammad Hatta yang disampaikannya dalam sidang Badan Pekerdja Komite Nasional Pusat (BPKNP) di Djokja, pada 2 September 1948, untuk merespons situasi politik internsional saat itu yang cenderung bipolar antara AS dan Russia. Kita mengenalnya dengan istilah Perang Dingin. Dari pidato itulah kemudian lahir istilah Politik Bebas Aktif. Kesimpulan dari pidato Hatta itu bisa diringkas dalam paragraph berikut dan paling sering dikutip para pengkaji Politik Luar Negeri Indonesia:

“…Mestikah kita bangsa Indonesia, jang memperdjoangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita, hanja harus memilih antara pro Russia atau pro Amerika? Apakah tak ada pendirian jang lain harus kita ambil dalam mengedjar tjita-tjita kita? Pemerintah berpendapat bahwa pendirian jang harus kita ambil ialah supaja kita djangan mendjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus tetap mendjadi subjek jang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak memperdjoangkan tudjuan kita sendiri, jaitu Indonesia Merdeka seluruhnja. Perdjoangan kita harus diperdjoangkan diatas dasar sembojan kita jang lama: Pertjaja akan diri sendiri dan berdjoang atas kesanggupan kita sendiri…”

Dokumen pidato yang kemudian dibukukan dan dimuat Jurnal Foreign Affairs ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi penstudi Hubungan Internasional di Indonesia, khususnya para pengkaji Politik Luar Negeri Indonesia. Sengaja saya upload, kali-kali aja dokumen pidato Hatta ini belum ada yang punya atau sudah hilang entah kemana. Sila didonlot–>Hatta-Mendajung antara Dua Karang

Sumber Dokumen: http://serbasejarah.wordpress.com/