Tariq Ramadan

Tariq

Oleh Asrudin Azwar

Saya adalah seorang pemercaya yang kuat bahwa hanya orang-orang yang baik yang dapat menghasilkan karya-karya yang baik. Baik dalam arti memiliki nilai kemanusiaan dan moralitas yang tinggi. Baik dalam arti manfaatnya bagi umat.

Buat saya Tariq Ramadan memiliki kualifikasi sebabai figur Islam yang demikian. Penilaian saya ini tentu punya dasar. Itu bisa dilihat dari sejumlah karya dan aktivismenya.

Di lihat dari segi karyanya, seperti Islam: The Essentials; Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation; dan banyak lagi, Tariq nampak terlihat sebagai seorang yang lembut, manusiawi, dan memiliki bobot moral yang tinggi. Melalui pena-nya, Islam berhasil digambarkan sebagai agama yang jauh dari kesan gahar di tengah maraknya aksi fundamentalisme Islam.

Bahkan kalau boleh jujur karyanya tentang Nabi Muhammad, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, sempat membuat saya meneteskan air mata ketika membacanya. Di buku yang terbilang singkat itu, Tariq berhasil melukiskan sosok nabi dengan sangat indah. Jauh lebih indah dari cara Martin Lings melukiskan nabi dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Tariq  menuntun kita untuk bercermin pada kemanusiaan dan keteladanan nabi mengenai persoalan-persoalan etika, sosial, dan pandangan hidup.

Karenanya menjadi tak heran, apabila sikap guru besar kajian Islam kontemporer di St Antony’s College, Oxford, Inggris, dan cucu dari pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hassan al-Banna, ini terhadap Barat dan pemikirannya, ia tetap bisa bersikap terbuka. Dengan lugas Tariq mengatakan, “tak semua yang berasal dari Arab itu Islamic, sebaliknya, tidak semua yang berasal dari Barat itu satanic”. Tariq pun menganjurkan ketika diwawancara The Guardian, “Islam and the west shouldn’t be at odds”.

Terkait tentang pemikiran, Tariq bahkan memasukkan kosakata kebebasan –kosakata yang kental dengan pemikiran Barat – sebagai agenda Islam, tetapi tidak melupakan pesan untuk melindungi diri dari permisiveness (serba boleh). Itulah sebab, ia menegaskan, “rasionalitas itu Islami, tapi rasionalisasi ekstrem tidak Islami”. Continue reading

Advertisements

“Blunder” Trump Tentang Yerusalem

Screenshot_2017-12-09-18-39-53-1

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dimuat dalam kolom opini Koran Suara Pembaruan, Sabtu-Minggu/9-10 Desember 2017, hal. 16-17)

Pada Rabu (6/12) siang waktu Amerika Serikat (AS), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, Washington DC, telah memberikan pidato yang kontroversial. Dalam pidatonya itu, Trump memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Trump juga menegaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem akan segera diproses.

Sontak saja masyarakat internasional memberikan respons miring terhadap Trump. Trump dinilai banyak pihak telah melanggar sejumlah resolusi PBB, Trump juga dituding telah menyulut perang di Timur Tengah dan perang terhadap 1,5 miliar umat Muslim di dunia yang tentu saja tak akan menerima kota suci itu berada di bawah hegemoni Israel. Uni Eropa sendiri, yang merupakan sekutu tradisional Amerika, menentang keras langkah Trump tersebut dengan meminta, “dimulainya kembali proses perdamaian menuju solusi dua negara” dan “harus ditemukan suatu cara, melalui negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota masa depan kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi”.

Dengan merujuk pada respons miring masyarakat internasional itu, maka langkah Trump ini dapat disebut sebagai blunder terbesar kebijakan luar negeri Amerika. Continue reading

Edisi September “Millenium: Journal of International Studies”

mila_46_1.cover

Oleh Asrudin Azwar

Setelah menbagikan edisi digital terbaru Journal of Peace Research (November 2017) di blog The Asrudian Center, banyak yang mengusulkan ke saya melalui email agar membagikan kembali jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Usulan yang bagus. Kebetulan, Sagepub selalu mengirimkan email ke saya akses url gratis untuk jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Namun, mengingat Sagepub hanya memberikan batas waktu yang tidak lama untuk mengakses url jurnal-jurnal tersebut, maka saya akan membaginya melalui blog ini.

Kali ini saya akan membagikan akses dari Sagepub untuk Millenium: Journal of International Studies untuk edisi September (Volume 46, Issue 1, September 2017). Nah, bagi mereka yang jenuh dengan kajian pendekatan arus utama dan tertarik dengan pemikiran-pemikiran kritis dalam ilmu Hubungan Internasional (HI), jurnal yang berbasis di London School of Economics and Political Science  ini bisa menjadi menu yang sangat pas untuk disantap para penstudi HI. Kalau anda, misalnya, kembali ke belakang untuk menengok edisi dari jurnal ini, anda akan disodorkan dengan berbagai gagasan kritis dari para pemikir HI, seperti Robert W. Cox, James Der Derian, Andrew Linklater, David Campbell, Rob Walker, Michael J. Shapiro, dan banyak lagi lainnya.

Jadi wajar saja kalau John A. Vasquez dari University of Illinois, suatu kali pernah mengatakan, “Millennium is one of the best IR theory journals in the discipline – a ‘must’ for anyone who wants to know what is going on in the field.”

Table of Contents

Current Issue

Volume 46, Issue 1, September 2017

Articles

  1. Imperial Mission, ‘Scientific’ Method: an Alternative Account of the Origins of IR, by Vineet Thakur, Alexander E. Davis, Peter Vale (pp. 3–23)–>Download
  2. The Illegal, the Missing: an Evaluation of Conceptual Inventions, by Christina Oelgemöller (pp. 24–40)–>Download
  3. International Art World and Transnational Artwork: Creative Presence in Rebecca Belmore’s Fountainat the Venice Biennale, by Emily H. Merson (pp. 41–65)–>Download
  4. Schmitt’s Telluric Partisan in American Entertainment Media: Fantasies of Resistance and Territorial Defence, by Marcus Schulzke (pp. 66–86)–>Download

Book Review

Book Review: Walter Scheidel, The Great Leveler: Violence and the History of Inequality from the Stone Age to the Twenty-First Century, by Michael Mann–>Download Continue reading

Edisi Terbaru “Journal of Peace Research”

 

jpra_54_6.cover

Oleh Asrudin Azwar

Kalau bukan karena Johan Galtung (bapak studi perdamaian dunia dalam disiplin HI), International Peace Research Institute Oslo – PRIO – mungkin tidak akan pernah didirikan. Kalau bukan karena Johan Galtung juga, Jurnal Riset Perdamaian (Journal of Peace Research) yang bergengsi itu tentu tidak akan pernah lahir di tahun 1964 dan bisa terus terbit hingga sekarang.

Hormat saya kepada Johan Galtung. Melalui penggagas perdamaian negatif dan positif itulah, kajian-kajian tentang perdamaian dalam disiplin HI bisa mendapatkan tempat tersendiri dalam benak penstudi HI. Bagi yang tertarik dengan kajian-kajian perdamaian, The Asrudian Center menghadirkan edisi digital terbaru dari Journal of Peace Research (Volume 54, Issue 6, November 2017) yang bisa diakses secara gratis. Semoga bermanfaat dan selamat mengkaji.

Table of Contents

: Current Issue (Volume 54, Issue 6, November 2017)

  1. Gender differences in support for direct and indirect political aggression in the context of protracted conflict by Lihi Ben Shitrit, Julia Elad-Strenger, Sivan Hirsch-Hoefler (pp. 733–747)–> Download
  2. Honor and political violence: Micro-level findings from a survey in Thailand, by Elin Bjarnegård, Karen Brounéus, Erik Melander (pp. 748–761)–> Download
  1. How (wo)men rebel: Exploring the effect of gender equality on nonviolent and armed conflict onset, by Susanne Schaftenaar (pp. 762–776)–>Download
  1. Impacts of neighboring countries on military expenditures: A dynamic spatial panel approach, by M Ensar Yesilyurt, J Paul Elhorst (pp. 777–790)–>Download
  1. What goes up, must come down? The asymmetric effects of economic growth and international threat on military spending, by Rosella Cappella Zielinski, Benjamin O Fordham, Kaija E Schilde (pp. 791–805)–>Download
  1. Iraq and the material basis of post-conflict police reconstruction, by Jesse SG Wozniak (pp. 806–818)–>Download
  1. Winning hearts & minds (!): The dilemma of foreign aid in anti-Americanism, by Efe Tokdemir (pp. 819–832)–>Download
  1. The networked peace: Intergovernmental organizations and international conflict, by Yonatan Lupu, Brian Greenhill (pp. 833–848)–>Download

 

 

Bom Nuklir dan Tamatnya Imajinasi

roy

Oleh Asrudin Azwar

Ada satu pendekatan paling dominan dalam ilmu Hubungan Internasional (HI) yang simplistik menjelaskan realitas politik internasional, yakni realisme. Itu artinya realisme adalah pendekatan yang gampang menyederhanakan persoalan-persoalan yang terjadi dalam arena politik internasional.

Kita bisa melihat itu ketika kaum realisme membuat sejumlah kata kunci: kepentingan nasional adalah mutlak, perang adalah rasional, manusia adalah immoral, dan sistem internasional adalah anarkis. Untuk itu, menurut realis, solusinya pun simplistik: perimbangan kekuatan. Dengan begitu, kepemilikan senjata nuklir menjadi penting. Kalau negara-negara kuat sama-sama memiliki nuklir, senjata ini bisa difungsikan sebagai penangkal dan perdamaian di antara mereka bisa diciptakan.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang motor pendekatan realisme (neo-realisme), Kenneth N. Waltz , dalam tulisannya berjudul The Spread of Nuclear Weapons: More May Better bahwa, “semakin banyak negara nuklir, masa depan dunia akan jauh lebih menjanjikan.” Alasan Waltz adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap akan mempertahankan keunggulannya dalam kepemilikan WMD dan bahwa penyebaran senjata nuklir akan mampu meningkatkan penahanan diri dan mencegah perang seperti di masa Perang Dingin. Continue reading

Stanley Hoffman dan HI Sebagai Ilmu Sosial Amerika

stanley-hoffmann_605

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dibuat untuk mengenang salah seorang ilmuwan HI terbaik yang pernah ada).

Pada 13 September 2015, dunia akademis hubungan internasional telah kehilangan salah seorang ilmuwan terbaiknya. Ia adalah Stanley Hoffmann, The Paul and Catherine Buttenwieser University Profesor Emeritus di Harvard University. Hoffman meninggal pada usia 86 tahun di Cambridge setelah lama menderita sakit.

Penulis 19 buku dan banyak artikel untuk jurnal ilmiah serta surat kabar terkemuka dan publikasi seperti The New York Review of Books, Hoffmann telah menjadi intelektual publik terkemuka di kedua sisi Atlantik selama lebih dari 50 tahun. Sebagai seorang sarjana hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Amerika, serta politik Perancis dan Eropa, ia meninggalkan bekas mendalam pada pemahaman kontemporer untuk beberapa masalah mengenai hubungan internasional. Continue reading