Akhiri Perang Suriah

Suriah Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat kolom JakartaBeat.net, Kamis 6 Maret 2014).

Stephen Hawking, seorang Atheis, Matematikawan, dan penulis buku A Brief History of Time, menulis opini yang sangat menyentuh di The Washington Post, berjudul “Syria’s War Must End,” pada 15 Februari 2014.

Hawking menuturkan mengapa perang Suriah harus segera diakhiri adalah karena sifatnya yang merusak peradaban. Perkembangan teknologi modern di Suriah dalam bentuk bom –baik kimia dan jenis senjata lainnya– dengan dibarengi impuls agresif manusia, telah menyebabkan lebih dari 100.000 nyawa warga sipil tidak berdosa melayang. Anak-anak pun ikut menjadi sasaran. Belum lagi sekitar 2,3 juta warga Suriah yang harus mengungsi di negara-negara tetangga.

Oleh sebab itu, Hawking mengimbau kita (baca: dunia) untuk bekerja sama mengakhiri perang ini dan untuk melindungi anak-anak Suriah. Kita telah menyaksikan dari pinggir lapangan selama tiga tahun (2011-2014) konflik ini terus berlangsung, dan menelan semua harapan. Sebagai seorang ayah dan kakek, Hawking merasa tersiksa menyaksikan penderitaan anak-anak Suriah.

Apa yang terjadi di Suriah saat ini adalah kekejian, yang dunia sedang saksikan dari kejauhan. Atas dasar itu, Hawking pun menyinggung dengan bertanya dimana kecerdasan emosional kita, rasa keadilan kita bersama? Perang di Suriah mungkin tidak mewakili akhir umat manusia, tetapi setiap ketidakadilan yang dilakukan seharusnya membuat manusia menjadi bersatu untuk memeranginya. Karena tanpa itu, kata Hawking, manusia tak lama lagi pasti akan musnah.

Intervensi Kemanusiaan

Dalam opininya itu, Hawking sesungguhnya ingin menyadarkan dunia untuk tidak memalingkan wajah kita, dan menengok pada peristiwa kekejian yang terjadi di Suriah dan menyebabkan banyak kematian warga sipil.

Merespon imbauan Hawking, maka perang Suriah harus segera diakhiri. Dan cara mengakhirinya adalah dengan melakukan intervensi militer demi kemanusiaan. Cara itu menjadi urgen dan mesti dilakukan dengan segera. Apalagi berbagai upaya dialog antara pemerintah dan oposisi Suriah, seperti dalam pertemuan Geneva, Swiss dipastikan gagal. Continue reading

Advertisements

Sisi Paradoks Intervensi AS

Syrian War Oleh Asrudin (Tulisan ini dimuat kolom opini Koran Media Indonesia, Sabtu 31 Agustus 2013, hal.6)

RENCANA Amerika Serikat (AS) untuk melakukan intervensi militer ke Suriah kian mendekati kenyataan. Keseriusan itu ditunjukkan AS dengan mengirimkan empat kapal perang perusak mereka ke perairan Suriah. Militer AS bahkan telah menentukan 50 target serangan. Serangan itu akan melibatkan rudal Tomahawk, yang dipersiapkan dari kapal perang yang ditempatkan di Laut Mediterania (Reuters, 28/8).

Rencana mengenai intervensi AS ke Suriah itu mengemuka setelah keluar kabar bahwa rezim Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia dalam konflik melawan oposisi pada 21 Agustus lalu. Akibat serangan senjata kimia itu sekitar 1.729 warga sipil tewas dan 6.000 lainnya mengalami gangguan pernapasan.
Untuk memuluskan rencana intervensi militer AS tersebut, Presiden Barack Obama mulai menghubungi sekutunya untuk menjaring dukungan. Hasilnya Turki, Inggris, dan Prancis menyatakan siap membantu menyerang Suriah.

Jika merujuk ke niatan intervensi militer ke Suriah, tampak jelas terlihat alasan humanitarian di dalamnya. Namun, isu intervensi militer untuk kemanusiaan itu sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan oleh para ahli dan praktisi hubungan internasional. Perdebatan itu menyangkut absah atau tidaknya sebuah intervensi dilakukan karena sifatnya yang melanggar kedaulatan.

Penerapan R2P

Ide untuk melakukan intervensi militer untuk kemanusiaan oleh AS bukanlah hal baru. Sebelumnya intervensi NATO yang dipimpin AS pernah dilakukan di Kosovo (1999), Irak (2003), dan Libia (2011). Namun, di antara ketiga aksi intervensi itu, Libia dinilai yang paling absah. Continue reading