Pesan untuk Suu Kyi

Pesan untuk Suu Kyi

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini pernah dimuat koran Suara Pembaruan, “Pesan untuk Suu Kyi”, Senin, 4 September 2017, hal. 12-13 )

Dunia internasional kembali mendapat kabar pedih tentang penderitaan warga Muslim Rohingya di Myanmar. Sekira 2.625 rumah telah dibakar di kawasan-kawasan mayoritas yang dihuni warga Muslim Rohingya di bagian barat laut Myanmar, pada pekan lalu. Serangan itu – merujuk data Lembaga Pengungsi PBB (UNHCR) – membuat 58.600 warga Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.

Data jumlah rumah yang dibakar itu telah diakui pemerintah negara tersebut pada hari Sabtu (2/9/2017). Meskipun pemerintah Myanmar menyalahkan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di balik pembakaran ribuan rumah, namun Human Rights Watch yang berbasis di New York, telah merilis citra satelit yang menunjukkan penghancuran total sebuah desa Muslim secara meluas dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar. Kebrutalan itu dilakukan sebagai upaya untuk memaksa warga Muslim Rohingya keluar dari Rakhine.

Meski kabar tentang kejahatan kemanusiaan terhadap warga Muslim Rohingya terus mendapat sorotan internasional, namun pemimpin de facto Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi tetap tidak melakukan upaya apapun untuk menghentikannya. Ia bahkan membisu, diam seribu bahasa.

Karena alasan itulah, menjadi wajar apabila ratusan ribu rakyat Indonesia melalui wadah Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang diterima oleh Suu Kyi tersebut. Continue reading

Advertisements

Bersatu dan Merdeka

image-32

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

17 Agustus 2017 ini, Indonesia merayakan ulang tahun (ultah) kemerdekaannya yang ke 72. Angka ini menunjukkan Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad. Tetapi lamanya kemerdekaan ini mengundang tanya besar? Dulu Bung Karno dalam pidatonya, “Lahirnya Pancasila”, pada 1 Juni 1945 pernah menanyakan, kita ini berani merdeka atau tidak?

Pertanyaan serupa seharusnya kita ajukan juga pada hari kemerdekaan yang ke 72 ini. Dan kalau mau jujur, semestinya kita semua bersepakat untuk menjawab tidak atas pertanyaan Bung Karno tersebut. Mengapa? Karena kemerdekaan menuntut rakyat dan tempatnya (tanah air) untuk bersatu. Perjuangan melawan kolonial tak akan membuahkan kemerdekaan, jika tak ada persatuan manusia dan tempatnya! Bung Karno sendiri pernah menegaskan, “dalam soal kebangsaan, orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. 

Tetapi kini yang terjadi justru sebaliknya. Kita bisa lihat itu pada Pilgub Jakarta 2017. Dalam pesta demokrasi di Jakarta itu, gesekan di antara masyarakat begitu mengakar. Masyarakat terpecah-belah. Enggan bersatu. Hal ini terjadi lantaran isu SARA kerap dijadikan senjata politik oleh aktor politik tertentu untuk memukul aktor politik lain yang menjadi lawan politiknya. Bahkan anggapan tentang pemimpin non-muslim sebagai kafir telah dijadikan dogma yang tak terbantahkan bagi sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia. Ahok bisa dijadikan contoh bagus tentang pengkafiran yang dimaksud itu.
Continue reading

Hannah Arendt: Filsuf yang Lugu

hannah-arendt

Oleh Asrudin Azwar

Setelah sekian kali menonton film Hannah Arendt (2012, download film), filsuf Yahudi dan teoretikus politik jenius yang menjadi tersohor karena salah satu bukunya yang paling berpengaruh di abad 20 dan begitu saya kagumi, The Origins of Totalitarianism (1951), akhirnya saya tergerak untuk menuliskannya.

Film itu bertemakan biografi: mengupas Arendt, mulai dari yang ringan (kehidupan rumahtangganya) hingga sampai ke persoalan yang berat (politik). Namun bukan persoalan ringan itu yang ingin dikupas dalam tulisan ini, melainkan pembelaan Arendt atas Adolf Eichmann. Sebagaimana diketahui pada 1961, Arendt bersama Majalah The New Yorker pergi ke Yerusalem untuk meliput pengadilan atas Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang didakwa mengarahkan pengiriman orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi dalam Perang Dunia II. Liputan (artikel) itu kemudian diperluas dan diterbitkan menjadi buku pada 1963 dengan judul Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil.

Dalam liputannya itu, Arendt mengamati bahwa pada dasarnya Eichmann tidak punya motif apa pun untuk membunuh Yahudi. Hannah menemukan fakta bahwa Eichmaan bukanlah seorang anti-Semitis. Dia tidak pernah membenci apalagi membunuh seseorang karena keyahudian-nya. Alasan Eichmann untuk “merestui” pembunuhan massal itu murni alasan birokratis. Dia melakukan itu karena hukum memerintahkan demikian dan peraturan yang berlaku ketika itu. Continue reading

Demokrasi Kebablasan?

screenshot_2017-03-05-14-16-46

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Belum lama ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat pernyataan kontroversial. Katanya, demokrasi kita sudah kebablasan. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat berpidato dalam pengukuhan pengurus DPP Hanura di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/2/2017).

Bagi Jokowi, demokrasi yang kebablasan itu telah membuka peluang artikulasi politik yang ekstrim seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, terorisme, serta ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Sebutnya lagi, penyimpangan praktik itu mengambil bentuk nyata seperti politisasi SARA, saling memaki dan menghujat, serta menjurus pada memecah belah bangsa kita. Karenanya, Jokowi kemudian memberikan solusi untuk menghadapi demokrasi yang kebablasan itu dengan penegakan hukum. Ia meminta aparat hukum bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran yang terjadi.

Hemat saya, istilah ini adalah sebuah penghianatan politik atas publik. Mengapa? Karena sasaran tembak Jokowi atas istilah politik barunya itu ditujukan kepada publik. Padahal Jokowi telah berutang budi banyak kepada demokrasi. Melalui demokrasi, publik telah membuat Jokowi terpilih menjadi Presiden. Itulah sebab, saya menggunakan tanda tanya (?) dalam tulisan ini setelah kalimat “demokrasi kebablasan”. Continue reading

Mencermati Kebijakan Luar Negeri Donald Trump

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan tidak pernah dimuat media manapun)

Ada yang menarik untuk dicermati dalam pidato pelatikan presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 20 Januari 2017. Dalam pidato yang berdurasi sekitar 17 menit, pria berusia 70 tahun itu berjanji kepada 800 ribu warga AS yang menyaksikan secara langsung, bahwa mereka akan selalu menjadi prioritas utama kebijakan yang dibuatnya, termasuk kebijakan di bidang perdagangan, pemberlakukan tarif pajak, imigrasi, hingga kebijakan luar negeri yang akan dibuat untuk memberikan manfaat bagi pekerja dan keluarga di AS.

Di antara kebijakan-kebijakan itu, hanya kebijakan luar negeri saja yang tidak disinggung Trump secara rinci. Padahal, kalau boleh saya istilahkan, presiden AS adalah presiden kebijakan luar negeri.

Dalam konteks ini, Trump hanya menyebut bahwa negeri Paman Sam akan tetap menjalin persahabatan dan niat baik dengan seluruh negara di dunia. Tetapi pada praktiknya, Trump menambahkan, hal itu harus dilakukan dengan menempatkan kepentingan AS sebagai prioritas. Continue reading

All Men Are Brothers

51uizoqihyl-_sy344_bo1204203200_51yepxom2zl-_sy344_bo1204203200_

Oleh Asrudin Azwar

Agama, kata Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life, adalah belas kasih. Yang dimaksud Armstrong dengan belas kasih adalah menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Itulah sebabnya Armstrong mamaknai belas kasih dalam istilah Konfusius: Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Namun ironisnya, kini yang berkembang justru adalah apa yang penulis sebut sebagai “Kaidah Lumpur”. Kaidah ini bukannya membuat orang menjadi peka dalam melihat penderitaan orang lain. Tetapi sebaliknya, merasa bahagia jika melihat orang lain menderita. Bahkan kaidah ini telah membuat orang menjadi lebih destruktif dan senang menimbulkan rasa sakit pada diri orang lain: memukul dan membunuh. Continue reading

Diplomasi Indonesia Soal Papua/Papua Barat

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Perdebatan mengenai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua dan Papua Barat kembali disinggung pada Sidang Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ke-71.

Pada sidang yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat, dari 13-26 September tersebut, 7 pimpinan negara-negara Pasifik PBB yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) mendesak Indonesia agar melakukan dialog konstruktif. PBB pun diminta negara-negara MSG ikut turun tangan untuk memulai penyelidikan yang kredibel dan independen terkait pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat. Ketujuh negara yang angkat bicara tersebut adalah Republik Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Republik Vanuatu, Republik Nauru, Tonga, dan Palau, pada 23 September.

Mengenai desakan 7 negara tersebut, Indonesia melalui delegasinya, Nara Rakhmatia, langsung menggunakan hak jawabnya sehari kemudian (24 September). Dalam hak jawabnya itu, Nara dengan tegas meminta kepada kelompok negara-negara kecil itu untuk tidak menggunakan Sidang Umum PBB untuk melanggar kedaulatan negara lain. Bagi Nara, ketujuh negara Pasifik itu tidak memahami sejarah, situasi terkini, dan perkembangan HAM di Indonesia yang progresif. Untuk itu, Nara menuduh pernyataan ketujuh negara tersebut bernuansa politis dan mendukung gerakan separatis, yang akan bisa mengganggu ketertiban umum. Continue reading