Mencermati Kebijakan Luar Negeri Donald Trump

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan tidak pernah dimuat media manapun)

Ada yang menarik untuk dicermati dalam pidato pelatikan presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 20 Januari 2017. Dalam pidato yang berdurasi sekitar 17 menit, pria berusia 70 tahun itu berjanji kepada 800 ribu warga AS yang menyaksikan secara langsung, bahwa mereka akan selalu menjadi prioritas utama kebijakan yang dibuatnya, termasuk kebijakan di bidang perdagangan, pemberlakukan tarif pajak, imigrasi, hingga kebijakan luar negeri yang akan dibuat untuk memberikan manfaat bagi pekerja dan keluarga di AS.

Di antara kebijakan-kebijakan itu, hanya kebijakan luar negeri saja yang tidak disinggung Trump secara rinci. Padahal, kalau boleh saya istilahkan, presiden AS adalah presiden kebijakan luar negeri.

Dalam konteks ini, Trump hanya menyebut bahwa negeri Paman Sam akan tetap menjalin persahabatan dan niat baik dengan seluruh negara di dunia. Tetapi pada praktiknya, Trump menambahkan, hal itu harus dilakukan dengan menempatkan kepentingan AS sebagai prioritas. Continue reading

Advertisements

Bom Nuklir dan Tamatnya Imajinasi

roy

Oleh Asrudin Azwar

Ada satu pendekatan paling dominan dalam ilmu Hubungan Internasional (HI) yang simplistik menjelaskan realitas politik internasional, yakni realisme. Itu artinya realisme adalah pendekatan yang gampang menyederhanakan persoalan-persoalan yang terjadi dalam arena politik internasional.

Kita bisa melihat itu ketika kaum realisme membuat sejumlah kata kunci: kepentingan nasional adalah mutlak, perang adalah rasional, manusia adalah immoral, dan sistem internasional adalah anarkis. Untuk itu, menurut realis, solusinya pun simplistik: perimbangan kekuatan. Dengan begitu, kepemilikan senjata nuklir menjadi penting. Kalau negara-negara kuat sama-sama memiliki nuklir, senjata ini bisa difungsikan sebagai penangkal dan perdamaian di antara mereka bisa diciptakan.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang motor pendekatan realisme (neo-realisme), Kenneth N. Waltz , dalam tulisannya berjudul The Spread of Nuclear Weapons: More May Better bahwa, “semakin banyak negara nuklir, masa depan dunia akan jauh lebih menjanjikan.” Alasan Waltz adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap akan mempertahankan keunggulannya dalam kepemilikan WMD dan bahwa penyebaran senjata nuklir akan mampu meningkatkan penahanan diri dan mencegah perang seperti di masa Perang Dingin. Continue reading