Islam and the Secular State

islam-book

Oleh Asrudin Azwar (Review singkat atas buku Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State)

Lagi iseng mencari data tentang Islam di Google untuk Bab tentang Islam dalam buku Teori-Teori HI yang sedang saya rampungkan, nemu bukunya pemikir muslim terkemuka asal Sudan Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State (download). Dalam bukunya itu An-Na’im rupanya memasukkan satu Bab khusus yang mengulas tentang Realitas Keberagaman dan Prospek Pluralisme di Indonesia.

An-Na’im di Bab itu menyoroti perdebatan seputar hubungan antara Islam, negara, dan masyarakat di Indonesia. Menurutnya adalah sebuah kekeliruan bila kita membayangkan adanya dikotomi yang tajam antara negara Islam dan negara Sekular hanya dengan melihat adanya institusi politik sekular, terutama dalam kondisi masyarakat Muslim dewasa ini. Sekularisme tidak mesti meminggirkan Islam dari kehidupan publik atau membatasi perannya pada domain privat dan personal. Continue reading

Diplomasi Indonesia Soal Papua/Papua Barat

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Perdebatan mengenai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua dan Papua Barat kembali disinggung pada Sidang Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ke-71.

Pada sidang yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat, dari 13-26 September tersebut, 7 pimpinan negara-negara Pasifik PBB yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) mendesak Indonesia agar melakukan dialog konstruktif. PBB pun diminta negara-negara MSG ikut turun tangan untuk memulai penyelidikan yang kredibel dan independen terkait pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat. Ketujuh negara yang angkat bicara tersebut adalah Republik Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Republik Vanuatu, Republik Nauru, Tonga, dan Palau, pada 23 September.

Mengenai desakan 7 negara tersebut, Indonesia melalui delegasinya, Nara Rakhmatia, langsung menggunakan hak jawabnya sehari kemudian (24 September). Dalam hak jawabnya itu, Nara dengan tegas meminta kepada kelompok negara-negara kecil itu untuk tidak menggunakan Sidang Umum PBB untuk melanggar kedaulatan negara lain. Bagi Nara, ketujuh negara Pasifik itu tidak memahami sejarah, situasi terkini, dan perkembangan HAM di Indonesia yang progresif. Untuk itu, Nara menuduh pernyataan ketujuh negara tersebut bernuansa politis dan mendukung gerakan separatis, yang akan bisa mengganggu ketertiban umum. Continue reading

Menolak Argumentasi HT/HTI

hizb1-530-300-1

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Pada Minggu 4 September 2016, ribuan massa dari Hizb ut-Tahrir Indonesia (HTI) dan ormas Islam lainnya, menggelar aksi menolak cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka mengimbau masyarakat untuk tidak memilih kembali Ahok pada Pilgub DKI yang akan berlangsung pada 2017 mendatang.

Massa yang beraksi tersebut juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘Haram menentukan Pemimpin Kafir’. Jubir HTI, Muhammad Ismail Yusanto, dalam orasinya di depan seribuan massa pada Bundaran Patung Kuda Indosat bahkan menegaskan, “Kita menolak pemimpin kafir. Hal ini telah termuat pada Alquran. Ini bukan masalah SARA.” Selain itu, mereka juga mengkritik kebijakan Ahok, “kebijakan yang didesain Ahok itu tajam ke bawah akan tetapi tumpul ke atas. Yaitu melakukan penggusuran-penggusuran terhadap masyarakat mungil. Jika beliau konsisten kenapa Pulau G yang berdiri tanpa IMB tidak digusur”.

Untuk kritik HTI atas kebijakan Ahok, tentu ini bisa dibenarkan karena demokrasi sendiri menuntut publik untuk tetap bersikap kritis terhadap pemimpinnya agar bekerja sesuai dengan yang diamanatkan rakyat. Namun, sikap politik HTI untuk menolak pemimpin yang terpilih secara demokratis (Ahok) atas alasan kafir, tentu ini menjadi problematis. Tulisan ini dibuat sebagai respons penulis atas HT (HTI), dan ditujukan untuk mendekonstruksi tujuan politik HT (HTI) yang sangat problematis tersebut. Continue reading

Pesan untuk Aung San Suu Kyi

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Belum lama ini, tokoh demokrasi Myanmar dan juga peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi kembali mendapat sorotan dunia internasional. Sebabnya adalah karena pernyataannya yang menyebut “No one told me I’m going to be interviewed by a Muslim.”

Pernyataan yang tertulis di buku biografi berjudul “The Lady and The Generals: Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom” yang ditulis oleh Peter Popham, jurnalis The Independent tersebut, dikeluarkan Suu Kyi karena ‘kehilangan kesabaran’ usai diwawancara presenter acara BBC Today, Mishal Husain.yang berdarah Pakistan, pada 2013 silam.

Dalam wawancara dengan Suu Kyi, Husain sebelumnya mempertanyakan sikap presiden Partai NLD tersebut, yang menolak mengecam sentimen anti-Islam dan pembantaian umat Muslim di Myanmar. Padahal sudah tiga tahun terakhir ini (2013-2016) etnis tersebut hidup sengsara dikamp pengungsi di Myanmar dan di berbagai negara. Itulah sebab, isu Rohingya menjadi sorotan ASEAN dan dunia internasional, apalagi sejak ribuan pengungsi dari Myanmar dan Bangladesh sampai bisa terdampar di Aceh, Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya.

Karena alasan itulah, menjadi wajar apabila ratusan aktivis di Indonesia melalui wadah Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang diterima oleh Suu Kyi, pada tahun 2012. Continue reading

Perang Opini Iran Versus Arab Saudi

maxresdefault

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dipublikasikan media manapun)

Sebagaimana diketahui bersama, setelah ulama Syiah terkemuka Nimr Baqr al-Nimr dieksekusi mati pada awal tahun 2016 (2/1), hubungan Iran dengan Arab Saudi semakin memanas.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mengecam eksekusi tersebut. Kedutaan Besar Saudi di Teheran bahkan sempat diserang pengunjuk rasa yang marah dengan keputusan eksekusi tersebut. Tak mau kalah, Saudi pun langsung membalasnya dengan  memutus hubungan diplomatik kedua negara.

Memburuknya hubungan kedua negara ini semakin melengkapi perseteruan mereka dalam sejumlah konflik kawasan beraroma geopolitik, seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman. Uniknya, menyitir Fawaz Gerges (kepala kajian Timur Tengah pada London School of Economics), kedua Negara itu justru sama-sama memosisikan diri sebagai korban dalam ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah. Continue reading

Iran, Antara Rouhani dan Zarif

rouhani-zarif_ll_2

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini pernah dimuat Koran Jawa Pos, 20 Januari 2016).

Memasuki tahun 2016 ini, Iran akhirnya berhasil menapaki babak baru dalam arena internasional. Di tengah perselisihannya dengan Arab Saudi, Iran justru dibebaskan dari sanksi ekonomi negara-negara besar selama 14 tahun lamanya. Berbarengan dengan dicabutnya sanksi ekonomi itu, Iran mengumumkan pembebasan lima warga Amerika Serikat, termasuk wartawan Washington Post Jason Rezaian, sebagai bagian dari pertukaran tawanan dengan AS.

Pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran itu dilakukan setelah negara tersebut mematuhi perjanjian internasional untuk mengendalikan program nuklirnya. Sebagaimana diakui oleh Badan Energi Atom Perserikatan Bangsa-Bangsa (IAEA) pada 16 Januari 2016, bahwa Iran telah merampungkan segala langkah yang diperlukan untuk menerapkan kesepakatan nuklir. Kesepakatan nuklir itu terkait dengan pemangkasan jumlah sentrifugal dan membongkar reaktor air berat di dekat kota Arak, Iran.

Itu artinya, Iran telah menjalankan semua kesepakatan yang diminta kelompok negara-negara besar  (P5 + 1), yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Cina dan Rusia ditambah Jerman pada Juli 2015. Tak heran jika kemudian Amerika Serikat mencabut sanksi perbankan, baja, pengapalan, dan sanksi-sanksi lainnya atas Iran. Uni Eropa juga memulai proses pencabutan sanksi atas Iran. Continue reading

Melawan Terorisme

teroris-sarinah

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Kamis (14/01/2016) pagi, kabar mengejutkan datang dari gedung Sarinah. Gedung yang berada di Jl. M. H. Thamrin No. 11 Jakarta Pusat itu dikagetkan dengan beberapa ledakan bom. Ledakan itu mengakibatkan pos polisi yang ada di perempatan Sarinah hancur. Selain ledakan, insiden baku tembak antara aparat keamanan dan para pelaku teror juga terjadi di sekitar kawasan Sarinah.  Insiden tersebut telah menyebabkan Tujuh orang tewas (5 orang pelaku ledakan, 1 orang warga sipil, 1 orang warga Belanda) dan 24 lainnya luka-luka.

Tak lama setelah insiden peledakan terjadi, Kelompok militan Islamic State Iraq and Syria (ISIS) menyatakan bertanggung jawab atas aksi teror bom tersebut. Pernyataan itu disampaikan media propaganda ISIS, Aamaq, melalui saluran Telegram.  Aamaq menuliskan, pejuang ISIS telah menjalankan serangan bersenjata pagi ini menyasar warga asing dan pasukan keamanan yang melindungi mereka di ibu kota Indonesia. Pengakuan ISIS itu semakin menegaskan dugaan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian,  yang menyebut pelaku teror di Sarinah ini merupakan kelompok Bahrun Naim yang diduga berada di Suriah. Bahrun Naim, sebutnya, ingin menjadi ketua ISIS jaringan Asia Tenggara dengan mendirikan Katibah Nusantara.

Mengingat kini Indonesia telah menjadi target aksi teror ISIS, adalah penting untuk memahami tujuan kelompok teror tersebut dan bagaimana cara melawannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengupas kedua hal itu, agar ke depan bangsa ini memiliki daya tahan yang tangguh ketika menghadapi insiden-insiden teror lainnya. Continue reading