Stanley Hoffman dan HI Sebagai Ilmu Sosial Amerika

stanley-hoffmann_605

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dibuat untuk mengenang salah seorang ilmuwan HI terbaik yang pernah ada).

Pada 13 September 2015, dunia akademis hubungan internasional telah kehilangan salah seorang ilmuwan terbaiknya. Ia adalah Stanley Hoffmann, The Paul and Catherine Buttenwieser University Profesor Emeritus di Harvard University. Hoffman meninggal pada usia 86 tahun di Cambridge setelah lama menderita sakit.

Penulis 19 buku dan banyak artikel untuk jurnal ilmiah serta surat kabar terkemuka dan publikasi seperti The New York Review of Books, Hoffmann telah menjadi intelektual publik terkemuka di kedua sisi Atlantik selama lebih dari 50 tahun. Sebagai seorang sarjana hubungan internasional dan kebijakan luar negeri Amerika, serta politik Perancis dan Eropa, ia meninggalkan bekas mendalam pada pemahaman kontemporer untuk beberapa masalah mengenai hubungan internasional. Continue reading

Advertisements

All Men Are Brothers

51uizoqihyl-_sy344_bo1204203200_51yepxom2zl-_sy344_bo1204203200_

Oleh Asrudin Azwar

Agama, kata Karen Armstrong dalam bukunya Twelve Steps to a Compassionate Life, adalah belas kasih. Yang dimaksud Armstrong dengan belas kasih adalah menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Itulah sebabnya Armstrong mamaknai belas kasih dalam istilah Konfusius: Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Namun ironisnya, kini yang berkembang justru adalah apa yang penulis sebut sebagai “Kaidah Lumpur”. Kaidah ini bukannya membuat orang menjadi peka dalam melihat penderitaan orang lain. Tetapi sebaliknya, merasa bahagia jika melihat orang lain menderita. Bahkan kaidah ini telah membuat orang menjadi lebih destruktif dan senang menimbulkan rasa sakit pada diri orang lain: memukul dan membunuh. Continue reading

President Obama’s Farewell Speech: Sebuah Catatan

Oleh Asrudin Azwar (catatan saya atas Pidato Perpisahan Presiden Barack Obama)

Pidato perpisahan PRESIDEN Barack Obama sebagai pemimpin negeri Paman Sam, pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu (11/1) WIB di Chicago, menurut hemat saya, sangat menggugah. Apalagi pidato perpisahan Obama itu telah disusun bersama stafnya selama berbulan-bulan. Ibarat masakan, pidato Obama ini telah disiapkan dengan matang.

Jadi wajar saja jika Obama berhasil membuat para pecintanya terkesima. Dalam pidato yang hampir satu jam lamanya itu Obama mengawalinya dengan ucapan terima kasih atas kesempatan berkomunikasi dengan rakyat yang telah membuat dirinya jujur dan terilhami. Ini adalah pembuka pidato yang sangat baik, mengingat Obama bisa menjadi presiden karena peran besar rakyatnya. Continue reading

Islam and the Secular State

islam-book

Oleh Asrudin Azwar (Review singkat atas buku Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State)

Lagi iseng mencari data tentang Islam di Google untuk Bab tentang Islam dalam buku Teori-Teori HI yang sedang saya rampungkan, nemu bukunya pemikir muslim terkemuka asal Sudan Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam and the Secular State (download). Dalam bukunya itu An-Na’im rupanya memasukkan satu Bab khusus yang mengulas tentang Realitas Keberagaman dan Prospek Pluralisme di Indonesia.

An-Na’im di Bab itu menyoroti perdebatan seputar hubungan antara Islam, negara, dan masyarakat di Indonesia. Menurutnya adalah sebuah kekeliruan bila kita membayangkan adanya dikotomi yang tajam antara negara Islam dan negara Sekular hanya dengan melihat adanya institusi politik sekular, terutama dalam kondisi masyarakat Muslim dewasa ini. Sekularisme tidak mesti meminggirkan Islam dari kehidupan publik atau membatasi perannya pada domain privat dan personal. Continue reading

Diplomasi Indonesia Soal Papua/Papua Barat

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Perdebatan mengenai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua dan Papua Barat kembali disinggung pada Sidang Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ke-71.

Pada sidang yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat, dari 13-26 September tersebut, 7 pimpinan negara-negara Pasifik PBB yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) mendesak Indonesia agar melakukan dialog konstruktif. PBB pun diminta negara-negara MSG ikut turun tangan untuk memulai penyelidikan yang kredibel dan independen terkait pelanggaran HAM di Papua dan Papua Barat. Ketujuh negara yang angkat bicara tersebut adalah Republik Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Republik Vanuatu, Republik Nauru, Tonga, dan Palau, pada 23 September.

Mengenai desakan 7 negara tersebut, Indonesia melalui delegasinya, Nara Rakhmatia, langsung menggunakan hak jawabnya sehari kemudian (24 September). Dalam hak jawabnya itu, Nara dengan tegas meminta kepada kelompok negara-negara kecil itu untuk tidak menggunakan Sidang Umum PBB untuk melanggar kedaulatan negara lain. Bagi Nara, ketujuh negara Pasifik itu tidak memahami sejarah, situasi terkini, dan perkembangan HAM di Indonesia yang progresif. Untuk itu, Nara menuduh pernyataan ketujuh negara tersebut bernuansa politis dan mendukung gerakan separatis, yang akan bisa mengganggu ketertiban umum. Continue reading

Menolak Argumentasi HT/HTI

hizb1-530-300-1

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

Pada Minggu 4 September 2016, ribuan massa dari Hizb ut-Tahrir Indonesia (HTI) dan ormas Islam lainnya, menggelar aksi menolak cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka mengimbau masyarakat untuk tidak memilih kembali Ahok pada Pilgub DKI yang akan berlangsung pada 2017 mendatang.

Massa yang beraksi tersebut juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘Haram menentukan Pemimpin Kafir’. Jubir HTI, Muhammad Ismail Yusanto, dalam orasinya di depan seribuan massa pada Bundaran Patung Kuda Indosat bahkan menegaskan, “Kita menolak pemimpin kafir. Hal ini telah termuat pada Alquran. Ini bukan masalah SARA.” Selain itu, mereka juga mengkritik kebijakan Ahok, “kebijakan yang didesain Ahok itu tajam ke bawah akan tetapi tumpul ke atas. Yaitu melakukan penggusuran-penggusuran terhadap masyarakat mungil. Jika beliau konsisten kenapa Pulau G yang berdiri tanpa IMB tidak digusur”.

Untuk kritik HTI atas kebijakan Ahok, tentu ini bisa dibenarkan karena demokrasi sendiri menuntut publik untuk tetap bersikap kritis terhadap pemimpinnya agar bekerja sesuai dengan yang diamanatkan rakyat. Namun, sikap politik HTI untuk menolak pemimpin yang terpilih secara demokratis (Ahok) atas alasan kafir, tentu ini menjadi problematis. Tulisan ini dibuat sebagai respons penulis atas HT (HTI), dan ditujukan untuk mendekonstruksi tujuan politik HT (HTI) yang sangat problematis tersebut. Continue reading

Perang Opini Iran Versus Arab Saudi

maxresdefault

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dipublikasikan media manapun)

Sebagaimana diketahui bersama, setelah ulama Syiah terkemuka Nimr Baqr al-Nimr dieksekusi mati pada awal tahun 2016 (2/1), hubungan Iran dengan Arab Saudi semakin memanas.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mengecam eksekusi tersebut. Kedutaan Besar Saudi di Teheran bahkan sempat diserang pengunjuk rasa yang marah dengan keputusan eksekusi tersebut. Tak mau kalah, Saudi pun langsung membalasnya dengan  memutus hubungan diplomatik kedua negara.

Memburuknya hubungan kedua negara ini semakin melengkapi perseteruan mereka dalam sejumlah konflik kawasan beraroma geopolitik, seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman. Uniknya, menyitir Fawaz Gerges (kepala kajian Timur Tengah pada London School of Economics), kedua Negara itu justru sama-sama memosisikan diri sebagai korban dalam ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah. Continue reading