P.Y. Nur Indro: Sebuah Obituari

Untitled2

Oleh Asrudin Azwar

Malam Rabu kemarin (9/10/2018), saya iseng menanyakan kabar mas P.Y. Nur Indro –pengajar di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan – kepada guru saya. Dan di malam itu pula saya mendapatkan kabar bahwa mas Nur telah berpulang. Buat saya ini adalah kehilangan besar bagi dunia keilmuan Hubungan Internasional (HI) di Indonesia. Mengapa? karena kontribusi beliau dalam mengembangkan ilmu HI di Indonesia terbilang cukup besar.

Sebagaimana diketahui, di Indonesia kebanyakan teoretikus HI-nya masih berkutat pada pandangan arus utama (realisme dan liberalisme). Itu bisa terjadi, kata Prof Bob Sugeng Hadiwinata (senior Nur Indro di Unpar) dalam tulisanya, “International Relations in Indonesia: Historical Legacy, Political Intrusion, and Commercialization” (International Relations of the Asia-Pacific, Vol. 9 No. 1 2008), karena warisan historis intelektual Amerika.

Prof Bob mencontohkan, akademisi-akademisi dari jurusan HI tertua Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang belajar di Amerika Serikat dilekatkan dengan Studi Kawasan. Sekembalinya mereka ke Indonesia, mereka memperkenalkan mata kuliah Studi Kawasan—seperti Politik dan Ekonomi Masyarakat Negara Berkembang, Politik dan Pemerintahan di Asia Tenggara, Politik dan Pemerintahan di Timur Tengah dan Politik dan Pemerintahan di Amerika Latin—di jurusan. Dalam kelompok pemikir ini terdapat akademisi-akademisi terkemuka seperti Ichlasul Amal (lulusan University of Northern Illinois), Amien Rais (lulusan University of Chicago), Yahya Muhaimin (lulusan Massachusetts Institute of Technology), dan Mohtar Mas’oed (lulusan Ohio State University). Continue reading

Advertisements

An Audit of Political Behavior Research

200px-Journal_cover_SAGE_Open

Oleh Asrudin Azwar

Dapat email dari Sage Publications (announcements@info.sagepub.com), yang mengarahkan saya untuk mengakses Research Paper dari ilmuwan-ilmuwan politik kenamaan – Joshua Robison (Aarhus University, Denmark), Randy T. Stevenson (Rice University, Houston, TX, USA), James N. Druckman (Northwestern University, Evanston, IL, USA), Simon Jackman (The University of Sydney, New South Wales, Australia), Jonathan N. Katz (California Institute of Technology, Pasadena, USA), dan Lynn Vavreck (University of California, Los Angeles, USA)- tentang Audit Penelitian Perilaku Politik (Unduh artikel–> An Audit of Political Behavior Research).

Research paper tersebut intinya ingin mengaudit literature perilaku politik yang beredar diberbagai jurnal ilmiah politik kenamaan, dengan focus pada tahun 1980-2009 dan dilengkapi dengan sampel kecil dari tahun 2010-2018. Tak kurang dari 1.163 sampel artikel kuantitatif dari 10.000 artikel yang dikumpulkan di 11 jurnal ilmiah ( The journals include the American Political Science Review, the American Journal of Political Science, the British Journal of Political Science, The Journal of Politics, Perspectives on Politics, Political Behavior, Political Psychology, Political Research Quarterly, Political Science Quarterly, Public Opinion Quarterly, and The Western Political Quarterly), diteliti oleh ke-enam ilmuwan politik tersebut. Continue reading

Tariq Ramadan

Tariq

Oleh Asrudin Azwar

Saya adalah seorang pemercaya yang kuat bahwa hanya orang-orang yang baik yang dapat menghasilkan karya-karya yang baik. Baik dalam arti memiliki nilai kemanusiaan dan moralitas yang tinggi. Baik dalam arti manfaatnya bagi umat.

Buat saya Tariq Ramadan memiliki kualifikasi sebabai figur Islam yang demikian. Penilaian saya ini tentu punya dasar. Itu bisa dilihat dari sejumlah karya dan aktivismenya.

Di lihat dari segi karyanya, seperti Islam: The Essentials; Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation; dan banyak lagi, Tariq nampak terlihat sebagai seorang yang lembut, manusiawi, dan memiliki bobot moral yang tinggi. Melalui pena-nya, Islam berhasil digambarkan sebagai agama yang jauh dari kesan gahar di tengah maraknya aksi fundamentalisme Islam.

Bahkan kalau boleh jujur karyanya tentang Nabi Muhammad, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, sempat membuat saya meneteskan air mata ketika membacanya. Di buku yang terbilang singkat itu, Tariq berhasil melukiskan sosok nabi dengan sangat indah. Jauh lebih indah dari cara Martin Lings melukiskan nabi dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Tariq  menuntun kita untuk bercermin pada kemanusiaan dan keteladanan nabi mengenai persoalan-persoalan etika, sosial, dan pandangan hidup.

Karenanya menjadi tak heran, apabila sikap guru besar kajian Islam kontemporer di St Antony’s College, Oxford, Inggris, dan cucu dari pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hassan al-Banna, ini terhadap Barat dan pemikirannya, ia tetap bisa bersikap terbuka. Dengan lugas Tariq mengatakan, “tak semua yang berasal dari Arab itu Islamic, sebaliknya, tidak semua yang berasal dari Barat itu satanic”. Tariq pun menganjurkan ketika diwawancara The Guardian, “Islam and the west shouldn’t be at odds”.

Terkait tentang pemikiran, Tariq bahkan memasukkan kosakata kebebasan –kosakata yang kental dengan pemikiran Barat – sebagai agenda Islam, tetapi tidak melupakan pesan untuk melindungi diri dari permisiveness (serba boleh). Itulah sebab, ia menegaskan, “rasionalitas itu Islami, tapi rasionalisasi ekstrem tidak Islami”. Continue reading

“Blunder” Trump Tentang Yerusalem

Screenshot_2017-12-09-18-39-53-1

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dimuat dalam kolom opini Koran Suara Pembaruan, Sabtu-Minggu/9-10 Desember 2017, hal. 16-17)

Pada Rabu (6/12) siang waktu Amerika Serikat (AS), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, Washington DC, telah memberikan pidato yang kontroversial. Dalam pidatonya itu, Trump memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Trump juga menegaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem akan segera diproses.

Sontak saja masyarakat internasional memberikan respons miring terhadap Trump. Trump dinilai banyak pihak telah melanggar sejumlah resolusi PBB, Trump juga dituding telah menyulut perang di Timur Tengah dan perang terhadap 1,5 miliar umat Muslim di dunia yang tentu saja tak akan menerima kota suci itu berada di bawah hegemoni Israel. Uni Eropa sendiri, yang merupakan sekutu tradisional Amerika, menentang keras langkah Trump tersebut dengan meminta, “dimulainya kembali proses perdamaian menuju solusi dua negara” dan “harus ditemukan suatu cara, melalui negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota masa depan kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi”.

Dengan merujuk pada respons miring masyarakat internasional itu, maka langkah Trump ini dapat disebut sebagai blunder terbesar kebijakan luar negeri Amerika. Continue reading

Edisi September “Millenium: Journal of International Studies”

mila_46_1.cover

Oleh Asrudin Azwar

Setelah menbagikan edisi digital terbaru Journal of Peace Research (November 2017) di blog The Asrudian Center, banyak yang mengusulkan ke saya melalui email agar membagikan kembali jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Usulan yang bagus. Kebetulan, Sagepub selalu mengirimkan email ke saya akses url gratis untuk jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Namun, mengingat Sagepub hanya memberikan batas waktu yang tidak lama untuk mengakses url jurnal-jurnal tersebut, maka saya akan membaginya melalui blog ini.

Kali ini saya akan membagikan akses dari Sagepub untuk Millenium: Journal of International Studies untuk edisi September (Volume 46, Issue 1, September 2017). Nah, bagi mereka yang jenuh dengan kajian pendekatan arus utama dan tertarik dengan pemikiran-pemikiran kritis dalam ilmu Hubungan Internasional (HI), jurnal yang berbasis di London School of Economics and Political Science  ini bisa menjadi menu yang sangat pas untuk disantap para penstudi HI. Kalau anda, misalnya, kembali ke belakang untuk menengok edisi dari jurnal ini, anda akan disodorkan dengan berbagai gagasan kritis dari para pemikir HI, seperti Robert W. Cox, James Der Derian, Andrew Linklater, David Campbell, Rob Walker, Michael J. Shapiro, dan banyak lagi lainnya.

Jadi wajar saja kalau John A. Vasquez dari University of Illinois, suatu kali pernah mengatakan, “Millennium is one of the best IR theory journals in the discipline – a ‘must’ for anyone who wants to know what is going on in the field.”

Table of Contents

Current Issue

Volume 46, Issue 1, September 2017

Articles

  1. Imperial Mission, ‘Scientific’ Method: an Alternative Account of the Origins of IR, by Vineet Thakur, Alexander E. Davis, Peter Vale (pp. 3–23)–>Download
  2. The Illegal, the Missing: an Evaluation of Conceptual Inventions, by Christina Oelgemöller (pp. 24–40)–>Download
  3. International Art World and Transnational Artwork: Creative Presence in Rebecca Belmore’s Fountainat the Venice Biennale, by Emily H. Merson (pp. 41–65)–>Download
  4. Schmitt’s Telluric Partisan in American Entertainment Media: Fantasies of Resistance and Territorial Defence, by Marcus Schulzke (pp. 66–86)–>Download

Book Review

Book Review: Walter Scheidel, The Great Leveler: Violence and the History of Inequality from the Stone Age to the Twenty-First Century, by Michael Mann–>Download Continue reading

Edisi Terbaru “Journal of Peace Research”

 

jpra_54_6.cover

Oleh Asrudin Azwar

Kalau bukan karena Johan Galtung (bapak studi perdamaian dunia dalam disiplin HI), International Peace Research Institute Oslo – PRIO – mungkin tidak akan pernah didirikan. Kalau bukan karena Johan Galtung juga, Jurnal Riset Perdamaian (Journal of Peace Research) yang bergengsi itu tentu tidak akan pernah lahir di tahun 1964 dan bisa terus terbit hingga sekarang.

Hormat saya kepada Johan Galtung. Melalui penggagas perdamaian negatif dan positif itulah, kajian-kajian tentang perdamaian dalam disiplin HI bisa mendapatkan tempat tersendiri dalam benak penstudi HI. Bagi yang tertarik dengan kajian-kajian perdamaian, The Asrudian Center menghadirkan edisi digital terbaru dari Journal of Peace Research (Volume 54, Issue 6, November 2017) yang bisa diakses secara gratis. Semoga bermanfaat dan selamat mengkaji.

Table of Contents

: Current Issue (Volume 54, Issue 6, November 2017)

  1. Gender differences in support for direct and indirect political aggression in the context of protracted conflict by Lihi Ben Shitrit, Julia Elad-Strenger, Sivan Hirsch-Hoefler (pp. 733–747)–> Download
  2. Honor and political violence: Micro-level findings from a survey in Thailand, by Elin Bjarnegård, Karen Brounéus, Erik Melander (pp. 748–761)–> Download
  1. How (wo)men rebel: Exploring the effect of gender equality on nonviolent and armed conflict onset, by Susanne Schaftenaar (pp. 762–776)–>Download
  1. Impacts of neighboring countries on military expenditures: A dynamic spatial panel approach, by M Ensar Yesilyurt, J Paul Elhorst (pp. 777–790)–>Download
  1. What goes up, must come down? The asymmetric effects of economic growth and international threat on military spending, by Rosella Cappella Zielinski, Benjamin O Fordham, Kaija E Schilde (pp. 791–805)–>Download
  1. Iraq and the material basis of post-conflict police reconstruction, by Jesse SG Wozniak (pp. 806–818)–>Download
  1. Winning hearts & minds (!): The dilemma of foreign aid in anti-Americanism, by Efe Tokdemir (pp. 819–832)–>Download
  1. The networked peace: Intergovernmental organizations and international conflict, by Yonatan Lupu, Brian Greenhill (pp. 833–848)–>Download

 

 

Memahami Politik melalui Novel “Animal Farm”

Animal Farm

Oleh Asrudin Azwar

Ada seorang teman yang awam politik menanyakan kepada saya, bagaimana memahami politik secara gampang. Saya jawab, bacalah novel alegori politik-nya George Orwell, Animal Farm (1945). Atau Jika malas membaca novel  Orwell tersebut, saran saya tonton film-nya saja (bisa ditonton dan didonlot pada situs berikut: http://lk21.net/animal-farm-1954/)

Membaca novel atau menonton film Animal Farm, politik memang jadi lebih mudah dipahami. Sebagaimana novel 1984, dalam Animal Farm, Orwell menjelaskan politik secara sedehana dan gamblang. Dalam novel itu sebagaimana digambarkan juga dalam film-nya, Orwell dengan gayanya yang satiris melukiskan bagaimana sekelompok binatang menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan yang mereka miliki.

Peternakan itu dimiliki oleh Jones tua. Dalam mengelola peternakan itu, Jones digambarkan Orwell sebagai penindas para binatang. Binatang, bagi Jones, tak lebih sebagai produk, untuk  diambil telur, susu, bulu, dan tenaganya. Jika sudah tidak membawa banyak manfaat (keuntungan), mereka akan berakhir di meja makan untuk disantap. Prilaku yang dinilai binatang-binatang tersebut sebagai tindakan yang tidak berprikebinatangan. Continue reading