“Blunder” Trump Tentang Yerusalem

Screenshot_2017-12-09-18-39-53-1

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini dimuat dalam kolom opini Koran Suara Pembaruan, Sabtu-Minggu/9-10 Desember 2017, hal. 16-17)

Pada Rabu (6/12) siang waktu Amerika Serikat (AS), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, Washington DC, telah memberikan pidato yang kontroversial. Dalam pidatonya itu, Trump memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Trump juga menegaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem akan segera diproses.

Sontak saja masyarakat internasional memberikan respons miring terhadap Trump. Trump dinilai banyak pihak telah melanggar sejumlah resolusi PBB, Trump juga dituding telah menyulut perang di Timur Tengah dan perang terhadap 1,5 miliar umat Muslim di dunia yang tentu saja tak akan menerima kota suci itu berada di bawah hegemoni Israel. Uni Eropa sendiri, yang merupakan sekutu tradisional Amerika, menentang keras langkah Trump tersebut dengan meminta, “dimulainya kembali proses perdamaian menuju solusi dua negara” dan “harus ditemukan suatu cara, melalui negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota masa depan kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi”.

Dengan merujuk pada respons miring masyarakat internasional itu, maka langkah Trump ini dapat disebut sebagai blunder terbesar kebijakan luar negeri Amerika. Continue reading

Advertisements

Edisi September “Millenium: Journal of International Studies”

mila_46_1.cover

Oleh Asrudin Azwar

Setelah menbagikan edisi digital terbaru Journal of Peace Research (November 2017) di blog The Asrudian Center, banyak yang mengusulkan ke saya melalui email agar membagikan kembali jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Usulan yang bagus. Kebetulan, Sagepub selalu mengirimkan email ke saya akses url gratis untuk jurnal-jurnal internasional edisi terbaru. Namun, mengingat Sagepub hanya memberikan batas waktu yang tidak lama untuk mengakses url jurnal-jurnal tersebut, maka saya akan membaginya melalui blog ini.

Kali ini saya akan membagikan akses dari Sagepub untuk Millenium: Journal of International Studies untuk edisi September (Volume 46, Issue 1, September 2017). Nah, bagi mereka yang jenuh dengan kajian pendekatan arus utama dan tertarik dengan pemikiran-pemikiran kritis dalam ilmu Hubungan Internasional (HI), jurnal yang berbasis di London School of Economics and Political Science  ini bisa menjadi menu yang sangat pas untuk disantap para penstudi HI. Kalau anda, misalnya, kembali ke belakang untuk menengok edisi dari jurnal ini, anda akan disodorkan dengan berbagai gagasan kritis dari para pemikir HI, seperti Robert W. Cox, James Der Derian, Andrew Linklater, David Campbell, Rob Walker, Michael J. Shapiro, dan banyak lagi lainnya.

Jadi wajar saja kalau John A. Vasquez dari University of Illinois, suatu kali pernah mengatakan, “Millennium is one of the best IR theory journals in the discipline – a ‘must’ for anyone who wants to know what is going on in the field.”

Table of Contents

Current Issue

Volume 46, Issue 1, September 2017

Articles

  1. Imperial Mission, ‘Scientific’ Method: an Alternative Account of the Origins of IR, by Vineet Thakur, Alexander E. Davis, Peter Vale (pp. 3–23)–>Download
  2. The Illegal, the Missing: an Evaluation of Conceptual Inventions, by Christina Oelgemöller (pp. 24–40)–>Download
  3. International Art World and Transnational Artwork: Creative Presence in Rebecca Belmore’s Fountainat the Venice Biennale, by Emily H. Merson (pp. 41–65)–>Download
  4. Schmitt’s Telluric Partisan in American Entertainment Media: Fantasies of Resistance and Territorial Defence, by Marcus Schulzke (pp. 66–86)–>Download

Book Review

Book Review: Walter Scheidel, The Great Leveler: Violence and the History of Inequality from the Stone Age to the Twenty-First Century, by Michael Mann–>Download Continue reading

Edisi Terbaru “Journal of Peace Research”

 

jpra_54_6.cover

Oleh Asrudin Azwar

Kalau bukan karena Johan Galtung (bapak studi perdamaian dunia dalam disiplin HI), International Peace Research Institute Oslo – PRIO – mungkin tidak akan pernah didirikan. Kalau bukan karena Johan Galtung juga, Jurnal Riset Perdamaian (Journal of Peace Research) yang bergengsi itu tentu tidak akan pernah lahir di tahun 1964 dan bisa terus terbit hingga sekarang.

Hormat saya kepada Johan Galtung. Melalui penggagas perdamaian negatif dan positif itulah, kajian-kajian tentang perdamaian dalam disiplin HI bisa mendapatkan tempat tersendiri dalam benak penstudi HI. Bagi yang tertarik dengan kajian-kajian perdamaian, The Asrudian Center menghadirkan edisi digital terbaru dari Journal of Peace Research (Volume 54, Issue 6, November 2017) yang bisa diakses secara gratis. Semoga bermanfaat dan selamat mengkaji.

Table of Contents

: Current Issue (Volume 54, Issue 6, November 2017)

  1. Gender differences in support for direct and indirect political aggression in the context of protracted conflict by Lihi Ben Shitrit, Julia Elad-Strenger, Sivan Hirsch-Hoefler (pp. 733–747)–> Download
  2. Honor and political violence: Micro-level findings from a survey in Thailand, by Elin Bjarnegård, Karen Brounéus, Erik Melander (pp. 748–761)–> Download
  1. How (wo)men rebel: Exploring the effect of gender equality on nonviolent and armed conflict onset, by Susanne Schaftenaar (pp. 762–776)–>Download
  1. Impacts of neighboring countries on military expenditures: A dynamic spatial panel approach, by M Ensar Yesilyurt, J Paul Elhorst (pp. 777–790)–>Download
  1. What goes up, must come down? The asymmetric effects of economic growth and international threat on military spending, by Rosella Cappella Zielinski, Benjamin O Fordham, Kaija E Schilde (pp. 791–805)–>Download
  1. Iraq and the material basis of post-conflict police reconstruction, by Jesse SG Wozniak (pp. 806–818)–>Download
  1. Winning hearts & minds (!): The dilemma of foreign aid in anti-Americanism, by Efe Tokdemir (pp. 819–832)–>Download
  1. The networked peace: Intergovernmental organizations and international conflict, by Yonatan Lupu, Brian Greenhill (pp. 833–848)–>Download

 

 

Memahami Politik melalui Novel “Animal Farm”

Animal Farm

Oleh Asrudin Azwar

Ada seorang teman yang awam politik menanyakan kepada saya, bagaimana memahami politik secara gampang. Saya jawab, bacalah novel alegori politik-nya George Orwell, Animal Farm (1945). Atau Jika malas membaca novel  Orwell tersebut, saran saya tonton film-nya saja (bisa ditonton dan didonlot pada situs berikut: http://lk21.net/animal-farm-1954/)

Membaca novel atau menonton film Animal Farm, politik memang jadi lebih mudah dipahami. Sebagaimana novel 1984, dalam Animal Farm, Orwell menjelaskan politik secara sedehana dan gamblang. Dalam novel itu sebagaimana digambarkan juga dalam film-nya, Orwell dengan gayanya yang satiris melukiskan bagaimana sekelompok binatang menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan yang mereka miliki.

Peternakan itu dimiliki oleh Jones tua. Dalam mengelola peternakan itu, Jones digambarkan Orwell sebagai penindas para binatang. Binatang, bagi Jones, tak lebih sebagai produk, untuk  diambil telur, susu, bulu, dan tenaganya. Jika sudah tidak membawa banyak manfaat (keuntungan), mereka akan berakhir di meja makan untuk disantap. Prilaku yang dinilai binatang-binatang tersebut sebagai tindakan yang tidak berprikebinatangan. Continue reading

Pesan untuk Suu Kyi

Pesan untuk Suu Kyi

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini pernah dimuat koran Suara Pembaruan, “Pesan untuk Suu Kyi”, Senin, 4 September 2017, hal. 12-13 )

Dunia internasional kembali mendapat kabar pedih tentang penderitaan warga Muslim Rohingya di Myanmar. Sekira 2.625 rumah telah dibakar di kawasan-kawasan mayoritas yang dihuni warga Muslim Rohingya di bagian barat laut Myanmar, pada pekan lalu. Serangan itu – merujuk data Lembaga Pengungsi PBB (UNHCR) – membuat 58.600 warga Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.

Data jumlah rumah yang dibakar itu telah diakui pemerintah negara tersebut pada hari Sabtu (2/9/2017). Meskipun pemerintah Myanmar menyalahkan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di balik pembakaran ribuan rumah, namun Human Rights Watch yang berbasis di New York, telah merilis citra satelit yang menunjukkan penghancuran total sebuah desa Muslim secara meluas dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar. Kebrutalan itu dilakukan sebagai upaya untuk memaksa warga Muslim Rohingya keluar dari Rakhine.

Meski kabar tentang kejahatan kemanusiaan terhadap warga Muslim Rohingya terus mendapat sorotan internasional, namun pemimpin de facto Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi tetap tidak melakukan upaya apapun untuk menghentikannya. Ia bahkan membisu, diam seribu bahasa.

Karena alasan itulah, menjadi wajar apabila ratusan ribu rakyat Indonesia melalui wadah Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang diterima oleh Suu Kyi tersebut. Continue reading

Bersatu dan Merdeka

image-32

Oleh Asrudin Azwar (Tulisan ini tidak pernah dimuat media manapun)

17 Agustus 2017 ini, Indonesia merayakan ulang tahun (ultah) kemerdekaannya yang ke 72. Angka ini menunjukkan Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad. Tetapi lamanya kemerdekaan ini mengundang tanya besar? Dulu Bung Karno dalam pidatonya, “Lahirnya Pancasila”, pada 1 Juni 1945 pernah menanyakan, kita ini berani merdeka atau tidak?

Pertanyaan serupa seharusnya kita ajukan juga pada hari kemerdekaan yang ke 72 ini. Dan kalau mau jujur, semestinya kita semua bersepakat untuk menjawab tidak atas pertanyaan Bung Karno tersebut. Mengapa? Karena kemerdekaan menuntut rakyat dan tempatnya (tanah air) untuk bersatu. Perjuangan melawan kolonial tak akan membuahkan kemerdekaan, jika tak ada persatuan manusia dan tempatnya! Bung Karno sendiri pernah menegaskan, “dalam soal kebangsaan, orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. 

Tetapi kini yang terjadi justru sebaliknya. Kita bisa lihat itu pada Pilgub Jakarta 2017. Dalam pesta demokrasi di Jakarta itu, gesekan di antara masyarakat begitu mengakar. Masyarakat terpecah-belah. Enggan bersatu. Hal ini terjadi lantaran isu SARA kerap dijadikan senjata politik oleh aktor politik tertentu untuk memukul aktor politik lain yang menjadi lawan politiknya. Bahkan anggapan tentang pemimpin non-muslim sebagai kafir telah dijadikan dogma yang tak terbantahkan bagi sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia. Ahok bisa dijadikan contoh bagus tentang pengkafiran yang dimaksud itu.
Continue reading

Hannah Arendt: Filsuf yang Lugu

hannah-arendt

Oleh Asrudin Azwar

Setelah sekian kali menonton film Hannah Arendt (2012, download film), filsuf Yahudi dan teoretikus politik jenius yang menjadi tersohor karena salah satu bukunya yang paling berpengaruh di abad 20 dan begitu saya kagumi, The Origins of Totalitarianism (1951), akhirnya saya tergerak untuk menuliskannya.

Film itu bertemakan biografi: mengupas Arendt, mulai dari yang ringan (kehidupan rumahtangganya) hingga sampai ke persoalan yang berat (politik). Namun bukan persoalan ringan itu yang ingin dikupas dalam tulisan ini, melainkan pembelaan Arendt atas Adolf Eichmann. Sebagaimana diketahui pada 1961, Arendt bersama Majalah The New Yorker pergi ke Yerusalem untuk meliput pengadilan atas Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang didakwa mengarahkan pengiriman orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi dalam Perang Dunia II. Liputan (artikel) itu kemudian diperluas dan diterbitkan menjadi buku pada 1963 dengan judul Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil.

Dalam liputannya itu, Arendt mengamati bahwa pada dasarnya Eichmann tidak punya motif apa pun untuk membunuh Yahudi. Hannah menemukan fakta bahwa Eichmaan bukanlah seorang anti-Semitis. Dia tidak pernah membenci apalagi membunuh seseorang karena keyahudian-nya. Alasan Eichmann untuk “merestui” pembunuhan massal itu murni alasan birokratis. Dia melakukan itu karena hukum memerintahkan demikian dan peraturan yang berlaku ketika itu. Continue reading